Malam itu, sebuah lounge eksklusif di pusat kota tampak sepi. Hanya sedikit tamu yang menikmati musik jazz pelan dan minuman mahal. Lampu remang-remang menciptakan bayangan panjang, mencampur elegan dengan atmosfer mencekam. Di sudut ruangan, Jeremy Kallisto duduk dengan angkuh. Jas mahal membungkus tubuhnya, cincin emas berkilat di jarinya, gelas whisky setengah penuh di genggaman. Wajahnya dihiasi senyum tipis—senyum orang yang mengira dirinya sedang berada di atas angin. Namun senyum itu perlahan pudar ketika pintu lounge terbuka. Dante masuk. Dengan kemeja hitam tanpa dasi, jas terlempar begitu saja di bahunya, posturnya tegap dan tatapan matanya dingin. Kehadirannya langsung menyedot perhatian. Bahkan pelayan yang sedang melangkah sontak berhenti, seperti tahu tempat itu kini buk

