Greisy seharusnya menghentikan Lucky, tetapi hatinya justru berpihak pada sikap Lucky. Dia mengalungkan tangannya di leher Lucky, membalas ciuman tersebut hingga membuat Lucky tersenyum dalam artiah Greisy menginginkan hal serupa. Tidak menolak atau marah. Bibir Lucky meninggalkan bibirnya, bergeser mencium pipinya, sambil bergerak, membuat Greisy berbaring di sofa, tubuh Lucky menguasainya. Dia menopang tubuhnya dengan menempatkan salah satu tangannya di sisi tubuh Greisy, tatapan matanya menelusuri wajah Greisy yang merona, begitu indah dimatanya. “Grey...” dia memanggil nama gadis itu lembut, membuat matanya terbuka, kembali meminta persetujuan, “bolehkan?” Kepala Greisy memberi anggukkan, bentuk persetujuan. Jantungnya berdebar sangat kencang, terutama saat akhirnya ia mengalungka

