Udara siang di ruang kerja Kaisar terasa lebih berat dari biasanya. Meja kayu besar itu dipenuhi berkas-berkas proyek, proposal kerjasama, juga draft perencanaan perusahaan yang harus segera ditindaklanjuti. Namun semua itu terasa seperti bayangan abu-abu ketika sebuah amplop putih dengan cap resmi pengadilan tergeletak di sudut meja. Kaisar duduk diam menatap amplop itu. Tangannya berulang kali terulur, lalu kembali ditarik. Ia menelan ludah, dadanya bergemuruh seakan ada palu besar yang sedang memukul-mukul dari dalam. “Ini dia… surat itu akhirnya datang,” gumamnya lirih. Perlahan, ia meraih amplop itu. Ujung jarinya terasa dingin. Begitu ia merobek sisi amplop, aroma khas kertas resmi menyeruak. Tulisan hitam tegas dengan kop pengadilan terpampang jelas. Surat panggilan sidang percera

