3 | Tempat Misterius

1016 Words
"Salah sendiri masuk ke kamar cowok." "Aku lagi cari ibu." "Dan di kamar yang kamu masuki itu, apa ada tanda-tanda keberadaan ibumu? Bukannya nggak ada sahutan walaupun udah berkali-kali kamu panggil?" Humaira diam. Dulu .... Kilasan memori saat awal pernikahan melibas ingatan Humaira, yang kini sedang menangisi kalung emas di tangannya. Kenapa harus bohong, sih? Kenapa harus sok-sokan bilang ini imitasi? Dan lagi, uang dari mana coba? Rajen yang dulu kejam dan bermulut jahat itu kini sudah banyak berubah rupanya, dan pikiran Huma flashback ke masa lalu gara-gara tingkah menyebalkan Rajen di masa kini. Dulu juga menyebalkan, tetapi yang sekarang ada manis-manisnya. Ah, tampaknya Rajen sedang berlagak—ingin—romantis, ya? "Harusnya sejak saat itu kamu tutup lagi pintu kamarnya, keluar, nggak perlu sampai masuk." Dulu Rajen selalu bersemangat untuk menegaskan siapa yang salah di antara mereka—dirinya dan Humaira. Awal dituntut harus menikah. Di mata Rajen kala itu, Huma yang salah. "Andai kamu nggak masuk, semua itu nggak akan terjadi, dan kita nggak perlu menikah terpaksa begini." Refleks, Humaira menggigit bibir bagian dalam. Itu dulu. Rajen yang sekarang justru selalu ingin membahagiakannya, lihatlah kalung ini. Lihat juga uang dua ratus ribunya. Huma mencebik, air matanya berlinang. Bukan sedih, tetapi jengkel dan terharu. Jengkel karena Rajen terasa mempermainkannya, ya, walaupun ada kisah romantis di balik aksi sok imitasi itu. Tapi kalau ini emas betulan, uang dari mana? Huma masih mempertanyakan asalnya. Namun, sang suami masih belum bisa dihubungi. Mungkin karena sedang mengemudi. Tadi, kan, naik motor. Tuh, kan! Perpisahan pagi ini di saat Huma sedang ngambek, seketika menyesal. Huma kirimkan pesan untuk papa Bara. Humaira: [Mas, kabarin kalau udah sampai di tujuan, ya. Aku pengin nelepon. Maaf soal semalam dan tadi.] Menyebut mas atas dasar kesepakatan, mengingat usia Rajen sebetulnya di bawah usia Huma dua tahun. Tapi bagaimanapun Rajen ini suami, Huma manut saja waktu Rajen pengin disebut mas. Huma letakkan ponsel, kembali fokus ke kalung. Sambil senyum dan memupus air mata, dia masukkan kalungnya ke dompet toko emas. Tak mau dipakai, maunya menunggu Rajen yang pasangkan, tetapi itu juga Huma mau nagih penjelasan. Ini kalung emas murni dibeli dengan uang dari siapa? Dari mana? Semua itu harus jelas, kan? Mengingat kondisi keuangan sekarang sedang di titik jatuh-jatuhnya. Baru kena tipu dan baru habis-habisan menyelesaikan masalah pinjol. Huma lalu berdoa. "Tolong kasih pekerjaan bergaji besar buat Rajen suamiku, Ya Allah. Dan semoga uang yang hilang jadi pahala buat kami, terus diganti berkali-kali lipat dari yang hilang itu. Aamiin." "Mamut ...." Oh, si kecil bangun. Huma pun berbalik, Bara mengucek-ngucek mata. *** Ke mana kaki harus melangkah di saat dompet kosong, kantong pun tidak ada isinya? Rajen memasukkan lagi saku yang dia tarik keluar sampai kain bagian dalamnya mencuat, percaya tidak percaya bahwa sepeser pun nihil di situ. Ini kondisi yang begitu asing bagi seorang Janardana Rajendra Atmaja di awal nikah, dan sekarang kembali Rajen rasakan, padahal tahun kemarin dia sempat berjaya dengan bisnis aplikasinya. Rajen duduk di bangku teras minimarket. Niatnya keluar adalah untuk mencari pekerjaan, karena untuk membangkitkan ladang uangnya di aplikasi terasa mustahil bisa bangkit dalam waktu singkat. Rajen butuh pemasukan untuk biaya hidup. Dan di kondisi ini, seketika Rajen teringat tahun-tahun pertamanya beradaptasi sebagai manusia dengan status sosial baru; di mana kemiskinan mencekik Rajen yang apa-apanya biasa segala ada bin sangat tercukupi, tetapi hari itu dia segala kekurangan. Hal pertama yang Rajen sadari bahwa dirinya melarat adalah saat Humaira bilang s**u anak sudah habis, sedangkan uang tabungan telah lama terkikis. Seumur-umur Rajen belum pernah pinjam uang, hari itu dia melakukannya. Gengsiii sekali! Ya, Rajen mempertaruhkan gengsi dan harga dirinya yang sangat berharga itu demi s**u anak. Dulu. Ini Rajen sedang mengenang di bangku minimarket. Tapi apa yang Rajen dapat saat dirinya pertama kali pinjam uang? Ketidakpercayaan sang sepupu. Ayolah ... ini Rajen. "Masa seorang Rajendra minjem duit? Ada-ada aja, haha! Sana minta ke papi lo, Raj." Asem memang. Hari-hari berikutnya. "Popok Bara juga habis, Raj. Uang saku kamu ada sisa, nggak? Uang saku aku cuma cukup buat beli makan kita." "Bentar, ya. Aku lagi usaha." Jawaban Rajen itu membuatnya geli sendiri sekarang. Usaha apa? Minta papi transfer dana buat beli s**u anak. Gengsi-gengsi juga Rajen lakoni, sekali lagi demi s**u anak. Ah ... sekarang kehidupan Rajen seakan dilempar balik ke hari itu. Hanya saja bukan lagi persoalan s**u anak, tetapi uang jajan Bara. Sekolahnya. Kan, sudah TK. Pun, makanan bergizi untuk anak itu. Tidak bisa. Rajen tidak bisa seperti dulu yang masih berani pinjam uang atau minta transferan ke papi, sekarang akan sangat memalukan kalau Rajen kembali melakukannya. Belum lagi nanti papi atau mami banyak tanya. Uang kamu ke mana? Mengingat Rajen sejatinya sudah cukup berduit di tahun ini—sebelum kena tipu habis-habisan. Dan akan berkali-kali lipat malunya kalau sampai mami-papi tahu bahwa Rajen kena tipu, makin malu jikalau berita itu sampai ke telinga keluarga besar. Jadi, Rajen harus bagaimana sekarang? Kerja. Ini Rajen sedang cari lowongan di media sosial, sambil mengisap rokok yang sebetulnya sudah sangat jarang Rajen sesap. Dapat uang dari mana beli rokok? Kemarin, Rajen tergiur akan sesuatu. Upahnya lumayan, Rajen belikan kalung emas untuk Humaira. Dan pesan istrinya itu belum Rajen buka. Nantilah. Apa Rajen melamar kerja di toko kue tantenya saja lagi, ya? Macam dulu. Atau Rajen melamar di perusahaan eyangnya yang baik hati, di perusahaan Sastra Edu? Macam awal-awal pernikahan. Tapi .... Gengsi. Rajen matikan rokoknya. Nanti pasti ditanya-tanya tentang kabar aplikasi ladang uang Rajen di beberapa tahun ini, lalu dia harus jawab apa? Bangkrut? Nggak menghasilkan lagi? Lebih baik ditutup? Malu, dong. Sementara, Rajen sempat menyombongkan diri. Ah ... buntu sekali rasanya. Rajen lalu tercenung. Di alam sana Kakek Uyut Atma pasti sedang tertawa. Pikiran Rajen melanglang buana. Padahal kakek uyut yang mengusirnya itu sudah wafat lama, tetapi Rajen merasa masih dipantau. Masih harus membuktikan bahwa dirinya bisa berjaya. Kalau bisa ... lebih dari yang keluarga Atmaja miliki. Sejatinya di sini Rajen sudah bertekad ingin makmur dengan caranya sendiri, tanpa bantuan instan dari sisi keluarga mana pun. Meski ternyata tidak mudah. Rajen bangkit, kembali naik motor. Apa dia ke tempat yang kemarin saja, ya? Yang memberinya upah lumayan. Haruskah? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD