87. Sakit

1331 Words

Naina menepati janjinya untuk mengunjungi rumah orangtuanya keesokan harinya. Kabar gembira—ayahnya sudah diizinkan pulang dua hari sebelumnya dan kondisinya terus menunjukkan perbaikan. "Pa, bagaimana kalau Papa pensiun saja?" usul Naina sambil duduk di samping ayahnya di sofa. "Papa sudah bekerja begitu lama, sudah waktunya beristirahat. Lagipula, Papa akan dapat dana pensiun, dan pendapatan dari kos-kosan juga cukup stabil. Kita tidak akan kekurangan." Dia melanjutkan, mencoba meyakinkan seperti yang diharapkan Azka. "Kalau mau, kita bisa beli tanah lagi dan bangun kosan tambahan. Bagaimana?" Arman terkekeh lembut, matanya berbinar penuh kasih. "Kamu disuruh Azka untuk membujuk Papa, ya?" "Ya, karena Papa tidak mau mendengarkan siapa pun," jawab Naina, sedikit merajuk. "Papa butuh is

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD