Keduanya berjalan bersama ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Naina masih memegangi buket bunga pemberian Chandra. Jari-jemarinya dengan lembut menyentuh kelopak mawar merah, menikmati aroma harum yang seolah mampu menyembuhkan luka di hatinya. Sesekali dia mendekatkan bunga itu ke hidungnya, menarik napas dalam-dalam seperti mencari kenyamanan dalam wewangian itu. Chandra duduk di sampingnya, tangannya dengan penuh kasih menyisir rambut Naina yang terlihat kusut dan belum tersentuh sisir sejak kemarin. Gerakannya lembut, penuh perhatian, seolah mencoba memulihkan setiap helai rambut yang ikut merasakan kesedihan pemiliknya. "Hm," gumam Naina tiba-tiba, memecah keheningan yang nyaman antara mereka. "Kayaknya Nai mau mandi dulu. Sudah sejak kemarin sore belum mandi," ujarnya polos, tanpa

