Fajar masih menyisakan kabut tipis ketika Chandra melangkah keluar rumah dengan sepatu lari di kaki. Langkahnya cepat dan mantap, seolah ingin mengusir segala beban pikiran dengan setiap tarikan napas dalam-dalam. Di dalam kamar, Naina masih terbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Hidungnya merah dan tersumbat, matanya sembap akibat bersin-bersin sepanjang malam yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Sejak insiden memalukan di rumah Livia, sebuah tembok es telah tumbuh di antara mereka. Hanya keheningan yang menyelimuti keadaan mereka sekarang. Chandra sengaja menghindari percakapan, khawatir satu kata saja bisa memicu pertikaian yang lebih besar. Dengan tubuh lemas, Naina meraih laptopnya dan menghubungi Sheila melalui panggilan video. Dia bahkan tidak peduli jika matahar

