"Abang, main plincess-plincess-an, yuk? Abang Delen jadi pangelannya." Biasalah, hari Minggu di akhir pekan berikutnya. Kali itu Daaron yang datang bertandang ke kediaman si kembar. "Aku habis beli tongkat sihil balu, tau. Nanti Nis yang jadi ibu pelinya. Peli cantik. Yuk?" "Kara jadi apa?" timpal Daaron. Niska menatap sang kembaran. "Jadi putli! Nis punya mahkotanya." Sebetulnya, Dikara tidak mau bergabung. Dia sedang asyik main puzzle sendiri, berdoa dalam hati semoga tak diikutsertakan dalam permainan penuh khayal itu. Jadi putri, huh? "Telus ... telus nanti pangelan sama putlinya menikah, deh! Tapi putlinya halus sengsala dulu, nah pangelan datang menolong putli. Kayak dongeng plincess ... eh, sindelela. Abang tau, nggak?" "Menikah?" Daaron fokus ke sana. "Maksudnya Abang sama

