"Udah? Cukup?" Nuni mengangguk. "Yakin?" Pipi Nuni bersemu, ini perihal peluk. Duh! Yang mana mereka sekarang sedang duduk bersisian, sudah tidak lagi saling mendekap, dan Nuni seakan baru terasa malunya saat ini. Dia pupus-pupus jejak air mata, melirik Om Genta. Rupanya sedang menatap Nuni, menyuguhkan senyum. Nuni auto mengulum bibir, tersenyum shy-shy cat. Eh, terdengar suara lapar dari perut Om Genta, yang beliau pegang perutnya. Nuni sontak tertawa. "Udah bunyi ternyata, Ni." "Jangan bilang Abang belum sarapan? Atau itu emang alarm makan siang?" Om Genta meringis. "Udah sarapan padahal. Nggak paham kenapa bunyi, biasanya juga silent walau belum diisi." "Oh, berarti alam bawah sadar Abang nyuruh aku masak. Ya udah, bentar. Aku masakin dulu. Sementara Abang makan kue aja, tuh

