[157] Hal Terlarang 🚫

1114 Words

"Jangan, nantinya kontraksi," kata Lena, menahan lengan Pak Wili yang hendak mendarat di destinasi favoritnya. Bagian atas. Semula sudah meraba-raba perut Lena di sepanjang aktivitas pertalian bibir mereka. Kini, keduanya berpandangan. Terlihat sorot mata Pak Wili mulai syahdu, belum lagi suara deru napasnya yang memberat, juga jakun yang Lena lihat gerak naik dan turunnya di sebelum kemudian Pak Wili berguling rebah telentang. Lena terduduk bersandar di kepala ranjang. Berdebar-debar. "Abang?" "Hm." Tanpa melirik Lena. Tampaknya Pak Wili sedang fokus meredakan something yang terpatik oleh cumbuan bibir Lena sebelum ini. Duh, jadi merasa bersalah. Tapi, kan, cuma cium. Masa langsung on fire? "Makanya kalau cium, tangan Abang diem." "Gerak sendiri tangannya," timpal beliau. "Lagi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD