Bab 9

1421 Words
Wajah tampan Darren menjadi sasaran empuk untuk Arsen meluapkan kekesalannya. sedangkan Alana hanya bisa menangis melihat sang tunangan terkapar. “Arsen, cukup, Darren bisa mati kalau kamu terus menghajarnya." Galen menarik paksa lengan Arsen agar Darren. Nafas Arsen memburu dengan tatapan tajam, dia sakit hati mendengar ucapan calon adik iparnya yang mengatakan mencintai Khalisa. Bukan cemburu, melainkan sakit hati karena ucapan itu pasti akan melukai hati Alana. Darren tersenyum tipis, meskipun wajahnya babak belur. “Darren.." Alana menghampirinya dan hendak membantu pria itu bangun, namun dengan cepat Darren menepisnya. “Sialan!!" Arsen hendak kembali memberikan pukulan namun Galen dengan cepat menariknya. Siapa yang tidak tahu kisah cinta Alana dan Darren. Keduanya bertunangan bukan karena saling mencintai, Alana begitu terosebsi pada Darren dan menggunakan kekuasaan Ayahnya untuk menekan keluarga pria itu dan menerima perjodohan mereka. Darren tidak pernah mencintai Alana, gadis yang sejak dulu di cintainya adalah Khalisa. namun tekanan dari keluarga Zionathan membuatnya tidak bisa memperjuangkan cintanya. Darren bangkit dan berdiri, dia mengusap sisa cairan merah di sudut bibirnya. lalu berlalu begitu saja meninggal Alana yang terus memanggilnya. “Semua gara-gara wanita sialan Itu!!" Geram Arsen menatap pintu ruangan di mana Khalisa terbaring. Galen hanya menggelengkan kepalanya. Padahal mereka sendiri yang salah, malah menyalakan Khalisa yang sebenarnya hanya korban. Beberapa jam sudah berlalu, Khalisa sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, tidak ada satupun orang yang menunggunya. Setelah merasa puas menangis, Khalisa kembali memejamkan mata indahnya dengan isakan kecil yang teramat memilukan. Khalisa yang malang, sekarang dia tahu jika takdir benar-benar kejam padanya, entah kesalahan apa yang pernah dia perbuat di masalalu sampai mendapatkan kehidupan yang menurutnya tidak adil. Tidak hanya kehidupannya yang kejam, namun dia juga masuk kedalam lingkaran orang-orang yang tidak memiliki ketulusan padanya. Tidak ada lagi yang tersisa dari hidupnya yang malang, penderita yang tidak pernah ada ujungnya, rasa ini adalah yang paling menyakitkan dari apapun yang pernah dia lalui. Dalam keadaan tertidur, mata indah itu masih mengeluarkan cairan bening. Suara isakan itu tidak berhenti dengan posisi tidur yang meringkuk. Sedangkan di ambang pintu, seorang pria gagah nan tampan menatapnya datar, lalu berjalan perlahan menghampiri ranjang Khalisa. “Khalisa, Bangun sialan!" Dengan sebelah tangan menepuk bahu wanita yang sedang terisak. Khalisa samar-samar mendengar ada seseorang yang memanggilnya, namun dia teramat susah untuk membuka mata dan menggerakkan tubuhnya. Suara itu masih terdengar sampai beberapa saat dia merasakan tubuhnya terbalu selimut tebal, sehingga membuatnya terasa nyaman dan enggan untuk membuka matanya. “Arsen, apa yang sedang kamu lakukan!!" Suara dari ambang pintu mengalihkan pandangan pria yang sedang menempelkan punggung tangannya di kening Khalisa. “Pelankan suaramu Alexia, aku hanya mengecek suhu tubuhnya, dia sejak tadi menangis, kemungkinan dia demam." Ujar Arsen, kembali memastikan suhu tubuh istrinya. Alexia melipat kedua tangannya di atas d**a, menatap tidak percaya pada kekasihnya. “Kenapa kamu harus perduli padanya Arsen, biarkan saja kalau dia demam, ada Dokter yang bisa mengurusnya." Ucap Alexia. Arsen menghela nafas panjang. “Aku tidak perduli padanya Alexia, dia tidak boleh mati sekarang. Sekarang keluarlah dan biarkan dia istirahat." “Ar... " “Alexia!!.. tolong sekali ini patuhlah, dia tidak boleh mati dengan mudah." Sela Arsen meninggikan suaranya. Alexia tersentak, lalu dia menghantakan kakinya, Arsen membentaknya hanya karena wanita seperti Khalisa. “Kamu benar-benar menyebalkan Arsen!!" Langkah Alexia menjauh dari ruangan itu. Arsen kembali menatap Khalisa dengan lekat, perhatikannya bukan karena cinta, namun karena dia belum puas membalaskan sakit hati Alana. Terlebih adiknya sejak tadi menangis karena ulah Khalisa yang masih menggoda Darren. Iya, Arsen menyalahkan Khalisa, padahal tidak ada yang tau bagaimana Darren bisa sampai ke rumahnya dan menemukan Khalisa di ruang pendingin. “Setelah ini aku akan membuat hidupmu lebih menderita lagi, Khalisa." Gumamnya pelan, namun terdengar jelas oleh Khalisa. Meskipun teramat susah untuk membuka matanya. Khalisa samar-samar kembali mendengar Arsen seperti sedang menghubungi seseorang untuk menjaganya. sampai akhirnya dia tidak mendengar apapun lagi. Entah berapa jam Khalisa tidak bisa membuka mata dan menggerakkan tubuhnya, seolah-olah ada sesuatu yang menghimpit tubuhnya. “Nona Khalisa, apakah Anda mendengarku?" Khalisa mendengarnya, suara yang salah satu maid yang baik padanya selama tinggal di rumah Arsen. Tidak ada pergerakan sama sekali. sejak semalam Khalisa tidak membuka matanya, menurutnya sangat aneh, lalu dia menekan tombol untuk memanggil Dokter. Setelah beberapa saat pintu ruangan kembali terbuka, namun bukan Dokter melainkan Arsen dan Alexia. “Tuan, tolong Nona, ada yang aneh dengan tubuh Nona Khalisa. Sejak semalam posisi tidurnya tidak berubah." Ucap sang maid penuh kekhawatiran. Arsen menghampiri ranjang Khalisa dengan langkah tergesa-gesa. “Khalisa, apa kamu mendengarku?" Sembari menepuk sebelah pipi istrinya. “Arsen, dia hanya pura-pura karena sudah melakukan kesalahan dan menghindari hukuman darimu." Ucap Alexia. “Diam Alexia, panggil Dokter, jangan sampai dia mati sekarang!" Titahnya. Kembali menepuk pipi Khalisa yang tertutup cadar. Sial, Arsen merasa dirinya berlebihan dengan kondisi Khalisa. Seharusnya dia senang melihat wanita yang sudah membuat adiknya menderita itu tidak berdaya. Arsen menyandarkan tubuhnya di sofa panjang, dia kembali mengingat apa yang Dokter Juna jelaskan tentang kondisi Khalisa. Khalisa Koma, bukan karena benturan keras, namun koma yang di alami Khalisa biasa terjadi pada seseorang yang ingin bunuh diri. Biasanya terjadi pada seseorang yang mengalami frustasi berat, Khalisa koma murni dari keinginannya sendiri yang tidak ingin membuka matanya. Jika terus berlangsung akan sangat fatal akibatnya. Arsen tidak mengerti, apa yang membuat Khalisa sampai frustasi, dia belum melakukan apapun, hanya beberapa peringkatan saja sudah membuat wanita itu menyerah. Brakk Pintu ruang kerjanya terbuka dengan kasar, Arsen hanya memejamkan matanya, dia tau siapa yang berani masuk tanpa mengetuk pintu. Dia Ayah nya. “Apa yang kamu lakukan pada Khalisa, Arsen!" Arsen membuka matanya, tatapannya beradu dengan sang Ayah. “Memangnya kenapa, bukannya bagus kalau dia berada di rumah sakit?" Tuan Adnan berkacak pinggang, membuang pandangannya dengan kesal, dia memang benci Khalisa, tetapi belum saatnya Arsen mengakhiri Permiannya. Sebab belum ada keturunan yang di dapatkan olehnya. “Iya, tetapi tidak sekarang Arsen, kamu belum mendapatkan keturunan darinya, setelah itu kalaupun kamu ingin melemparkannya ke jurang, Ayah tidak perduli." Lagi-lagi tentang keturunan, Arsen muak mendengarnya, dia sudah sangat bersalah pada Alexia dan sekarang mendapatkan tuntutan lagi dari Ayahnya. Dia tidak bisa menolak dan tidak ada pilihan lain. Arsen belum sepenuhnya berkuasa dan masih dalam pantuan Ayahnya, dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri sebelum dia sah menjadi pewaris. “Aku tidak akan mengulanginya." ** Beberapa hari sudah berlalu, Khalisa akhirnya membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah Alana sahabatnya. Khalisa tersenyum di balik cadarnya. “Alana" Gumamnya lemas. Alana mengangguk. “Hmm, ini aku Khalis, jangan seperti ini lagi, aku sangat menghawatirkanmu." “Maaf, sudah membuatmu Khawatir." Ujar Khalisa. Alana segera memanggil Dokter untuk kembali memeriksa keadaan sahabatnya. Keadaan Khalisa sudah mulai membaik hanya perlu pemulihan saja. “Wah!.. ternyata sudah bangun dari pura-pura koma nya?" Baik Khalisa maupun Alana keduanya menoleh kearah sumber suara. Alexia berjalan dengan melenggokan tubuhnya ke arah Khalisa, di samping wanita cantik itu ada Arsen yang hanya menatap datar sang istri. Sungguh, Alexia sebenarnya sangat penasaran, seperti apa wajah Khalisa yang selalu tertutup cadar, apakah secantik yang orang-orang bicarakan? jika wanita yang menggunakan cadar sangat cantik. “Arsen, boleh aku bertanya sesuatu?" Alexia melirik kekasihnya. dan pria tersebut menganggukkan kepalanya. Alexia tersenyum. “Apakah wajahnya lebih cantik dariku? Aku sangat heran kenapa dia sangat berani menggodamu dan tunangan Alana." Pertanyaan tersebut sontak membuat Khalisa terkejut, bukan karena membandingkan kecantikan, namun kalimat menggoda tunangan Alana. “Tidak ada yang lebih cantik darimu, Alexia." Jawab Arsen. Alexia tersipu malu mendengar jawaban Arsen, namun bukannya memang begitu jawabannya, dia lebih cantik dan lebih segalanya dari Khalisa. “Bukannya aku sudah pernah mengatakannya Nona Alexia, Aku tidak perduli seberapa cantiknya dirimu, seberapa menariknya fisikmu, atau seberapa baik Agamamu di bandingkan aku, sungguh aku sama sekali tidak perduli." Khalisa menjeda kalimatnya. Menatap lurus Alexia dan Arsen secara bergantian. “Yang aku pahami adalah satu hal, saat kamu mengambil apa yang sudah bukan milikmu, di situlah nilaimu jatuh dan tidak membuatmu lebih baik dariku." Khalisa tersenyum tipis. Alexia kembali tertampar oleh kalimat Khalisa. “Aku tidak mengambil apapun darimu Khalisa, sejak awal Arsen adalah milikku dan kamu yang merebutnya." Khalisa terkekeh pelan. “Nona Alexia, aku tidak merebutnya, saat itu, Mas Arsen bisa memilih dan memperjuangkan cintanya padamu, tetapi lihat!! .. Dia takut dengan ancaman Ayahnya dan memilih menikahi ku, jadi jangan terlalu percaya diri dengan cinta dan kecantikanmu itu." “Khalisa!!" Bentak Arsen. Khalisa tersenyum miring, membalas tatapan Arsen tidak kalah tajamnya. Seandainya tidak memiliki anak-anak panti, dia tidak akan tunduk pada pria arogan itu. “Kak, jangan membuat keributan, ini Rumah Sakit dan Khalisa juga baru sadar, lebih baik bawa kekasihmu keluar." timpal Alana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD