Tangan Wilda gemetar, berdenyut panas setelah menampar keras wajah suami brengseknya. Bisa-bisa setelah tadi pagi dengan muka bengis menghajarnya sampai hampir mati, sekarang mendatanganinya dengan raut khawatir yang menjijikkan. Wilda seperti mau muntah, ternyata seperti inilah pria sialan itu selalu berpura-pura di depannya. “Sepuluh tahun aku mengabdikan hidupku untuk jadi istri dan menantu yang baik di keluarga kalian. Rela menjauh dari dunia luar, demi bisa fokus merawat Amel dan melayani orang tuamu. Tapi lihatlah, seperti ini balasan yang kalian berikan padaku. Salahku apa? Kalau sudah tidak mau, tidak cinta, kenapa tidak sejak awal melepasku? Kenapa kalian tega melakukan ini padaku? Kalian semua benar-benar rengsekk!” teriak Wilda menangis sejadi-jadinya sambil menampar juga memuk

