Restoran bergaya ala belanda itu tidak ramai, tapi cukup hidup. Lampu-lampu gantung berwarna hangat bergantung rendah, menciptakan bayangan tenang di antara meja-meja. Daska datang lebih dulu, mengenakan kemeja gelap dan jas kasual. Ia duduk di pojok jendela, menatap lalu-lalang kendaraan dari balik kaca. Tak lama, Mahesa datang. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam seperti biasa, namun malam ini ada gurat kelelahan yang tidak ia sembunyikan. “Maaf membuatmu menunggu,” sapa Mahesa sembari menjabat tangan Daska. “Tidak masalah, Om,” jawab Daska, berdiri menyambut. “Terima kasih sudah bersedia bertemu malam ini.” Mereka duduk. Pelayan datang dan mencatat pesanan. Hening sempat menggantung, sebelum Mahesa membuka percakapan dengan suara rendah dan terkendali. “How’s your trip?” tanya Das

