34 | Diantara Dua Hati

1585 Words

“Daska atau Edgran? Masa lalu atau masa depan? Hati atau logika?” —— Kafe kecil di sudut jalan itu masih setia merangkul senja dengan aroma kopi dan cahaya temaram. Lampu-lampu gantung bernuansa hangat mulai menyala perlahan, seolah paham bahwa hari sudah mulai lelah. Di meja pojok dekat jendela kaca yang menghadap jalan, Nea duduk bersama Jua—keduanya masih mengenakan pakaian kerja; rapi, namun menyimpan jejak letih bekas hari. Secangkir kopi hitam mendingin di depan Nea—tak tersentuh sejak awal. Wajahnya nyaris tenggelam di permukaan meja, menyimpan gelisah yang sulit dijelaskan. Sementara Jua, dengan sabar, mengaduk latte-nya, membiarkan percakapan yang belum juga dimulai mengendap dalam udara yang padat. —Padat oleh hal-hal yang menunggu untuk diucapkan. Jua menyipitkan mata, men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD