Pagi menjelang hangat, merayap perlahan melewati sela dedaunan kampus yang baru saja terbasuh embun. Suasana kampus mulai menggeliat. Suara langkah kaki mahasiswa menyatu dengan desir angin yang membawa aroma kertas dan kopi sachet. Di antara koridor panjang yang mengarah ke ruang dosen, dua pasang kaki melangkah cepat—terburu waktu, dan mungkin, terburu rasa. “Eh Pak Daska, tuh!” Jua menunjuk dengan sedikit bisikan. “Baru juga diomongin, udah muncul aja orangnya," tambah jua. Ia terkekeh. Nea mengangkat wajah, mendapati sosok yang selama ini memenuhi pikirannya terlihat baru saja keluar dari ruang dosen. Pria itu selalu tampak sempurna. Kali ini dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga sikut dan celana bahan abu yang melekat di tubuh tinggi tegapnya. Tapi bukan itu yang mem

