“Cinta sejati tak selalu datang dengan pelukan—kadang ia menyamar sebagai luka, agar mereka yang menyangkal akhirnya mengaku.” —— “Hi, maaf ya, menunggu lama.” Wanita anggun itu menyapa Daska dan Nea yang duduk bersisian kemudian duduk disebrang mereka. “Nevermind. We just arrived.” Suara tenang namun friendly itu datang dari Daska. Matanya berbinar namun sulit untuk dibaca. “Ah, begitu. Jadi bagaimana, sudah?” tanya Arula lembut. Pertanyaan itu jelas ditujukan kepada Daska. “Sudah.” Daska mengangguk seraya tersenyum samar. “It’s mean that ... berakhir?” Arula kembali bertanya, masih dengan senyum lembut di wajahnya. membuat Nea refleks mengernyit tidak mengerti. “Benar.” Wait, tunggu. Maksudnya? Nea menatap tajam ke arah keduanya bergantian. Jelas menunggu penjelasan. “Sel

