39 | Kenapa Rasanya Nggak Rela?

1671 Words

Jam digital di layar monitor menunjukkan pukul dua belas lewat tujuh belas menit. Kantor yang tadinya riuh oleh dering telepon, suara ketikan, dan percakapan lewat headset kini mulai meredup, berganti dengan ketenangan khas jam istirahat. Nea mengembuskan napas perlahan, lalu memutar sendi lehernya yang kaku. Di luar kaca jendela besar, matahari menggantung tenang. Cahaya keemasan yang menyelinap masuk ke ruangan memberi kesan damai, kontras dengan tumpukan laporan di meja yang masih menanti revisi. “Lunch bareng?” Suara Edgran terdengar dari arah pintu yang setengah terbuka. Laki-laki itu bersandar santai di ambang pintu, mengenakan kemeja abu tua yang digulung hingga siku dan dasi longgar yang menggantung elegan. Nea tersenyum, lalu berdiri sambil merapikan ponsel dan ID card-nya. “Ka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD