Sebuah ruangan privat di sudut restoran fine dining bertema klasik Perancis menjadi latar pertemuan malam itu. Langit kota baru saja meredup, menyisakan cahaya jingga di balik jendela tinggi berhias gorden beludru. Lilin-lilin kecil menyala di atas meja panjang berlapis linen putih, menebar aroma lavender yang nyaris tak tercium di antara keheningan dan obrolan kecil yang sopan. Mahesa duduk di sisi kanan meja, jas arang yang dikenakannya tetap rapi meski pergelangan tangannya sesekali mengetuk-ngetuk ringan permukaan meja. Diana, istrinya, duduk di sampingnya dengan gestur tenang, menyibukkan diri memutar perlahan batang sendok dalam cangkir teh melatinya yang belum tersentuh. Tak jauh dari mereka, Anggara dan Nayera—orangtua Daska—terlihat ramah seperti biasa. Di ujung meja, Cavina me

