58. Mengakui Perasaan

1155 Words

"Amara. Jangan bercanda! Kalau kamu ingin membuat kami merasa bersalah, maka kamu berhasil melakukannya!" Maharani langsung berteriak sembari mengguncang bahu Amara, dadanya tersadar semakin sesak karena ucapan dari sang putri. "Kenapa Mama bertindak impulsif seperti ini sekarang? Kalau Mama sejak awal peduli padaku, semua kekacauan ini tidak akan terjadi!" Amara balik meneriaki Maharani. Hendrik yang melihat keadaan sudah tidak kondusif lagi akhirnya memisahkan kedua wanita itu. Dia memeluk bahu Amara yang bergetar karena luapan emosi yang belum mereda. "Amara. Bisa kamu jelaskan apa maksud dari perkataanmu itu," ucap Hendrik dengan raut wajah serius. Dia merasa jika ini waktu yang tepat untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amara mengenai gosip buruk itu. Gosip yang mengatakan ji

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD