"Mama pulang dulu ya, Amara. Sudah larut malam, besok adik-adikmu masih harus sekolah," ucap Maharani dengan senyum canggung. Wanita itu merasa tak enak dengan sang putri yang pasti merasa kecewa padanya, karena tak mendampingi di masa sekolah. "Kapan-kapan aku mau bertemu mereka, Mah." Suara Amara bergetar menahan emosi, rasa iri kini menguasai hatinya. Melihat keadaan yang berubah menjadi canggung, membuat Raymond segera berbicara. "Terima kasih atas kedatangannya dan Ibu nggak perlu cemas, karena mulai besok kami akan tinggal di rumah orang tua saya." Maharani tersenyum saat mendengarnya, dan di dalam hati dia semakin percaya jika Raymond adalah pria tulus yang mencintai Amara. "Kalau begitu, bolehkah nanti saya berkunjung ke rumah orang tua Bapak?" tanya Maharani yang direspon an

