Langit di ufuk timur perbukitan itu mulai menanggalkan jubah hitamnya, menggantinya dengan semburat ungu keemasan yang perlahan membasuh dinding-dinding kaca rumah baru mereka. Di dalam kamar yang masih diselimuti sisa-sisa kehangatan dari malam penyatuan yang menyembuhkan itu, Lily Rosemont terbangun bukan dengan rasa sesak, melainkan dengan kejernihan yang luar biasa. Ia merasakan berat lengan Ethan Blackwell yang masih mendekapnya, sebuah pelukan yang tidak lagi terasa seperti belenggu, melainkan seperti perisai yang kokoh. Lily menatap langit-langit kamar yang tinggi, menyadari bahwa fajar ini menandai berakhirnya perang batin yang selama ini merobek jiwanya. Ketakutan akan masa lalu, mimpi buruk tentang pernikahan formal yang hampa, dan keraguan akan jati dirinya di bawah nama besar

