Lily duduk di sofa apartemennya, tubuhnya lemah, kepala berdenyut, dan d**a terasa sesak. Tubuhnya masih hangat oleh demam ringan, namun pikirannya dipenuhi kekhawatiran lain — Victoria. Ia tahu, jika Ethan tetap berada di apartemennya terlalu lama, istrinya pasti akan menanyakan sesuatu. Dan dari pengalaman sebelumnya, Victoria tidak pernah menahan emosinya jika soal Ethan dan perempuan lain muncul di radar. “Ethan … kamu harus pulang sekarang,” suara Lily serak, hampir berbisik, meski nadanya tegas. “Aku … aku akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu di sini. Kalau Nyonya Victoria tahu, dia pasti marah .…” Ethan menatapnya, matanya gelap, raut wajahnya serius tapi penuh pertimbangan. Ia tahu benar Victoria bisa meledak sewaktu-waktu, dan malam ini ia harus membuat keputusan. Namun melihat

