Pagi itu, Ethan membawa seperangkat alat lukis yang ia pesan khusus dari Jakarta—kanvas, cat minyak, dan easel—ke tepi pantai. "Ini hadiah terakhir sebelum kita pergi, Sayang," ujar Ethan, mencium kening Lily. "Tidak ada analisis. Tidak ada strategi. Hanya kamu dan kanvas itu. Aku ingin kamu melukis apa pun yang kamu rasakan, apa pun yang kamu lihat. Bebaskan dirimu." Lily, yang terakhir kali melukis di masa kuliah, awalnya ragu. Ia takut hasilnya akan dinilai, sama seperti karirnya yang dinilai. "Aku tidak tahu harus melukis apa, Ethan. Aku takut jika aku melukiskan perasaan ku, itu terlalu gelap," bisik Lily. "Lukis saja. Tidak ada yang akan melihatnya kecuali aku. Dan aku tidak menghakimi senimu, sama seperti aku tidak menghakimi jiwamu," balas Ethan, dengan sabar. Lily akhirnya me

