Bab 15 - Candu

1340 Words
Ziva sempat mempertimbangkannya dengan singkat, bahwa dirinya harus menciptakan boundaries sehingga tidak pernah ada yang namanya melewati batas seperti dulu lagi. Bukannya apa-apa, upaya move-on yang Ziva lakukan selama lima tahun belakangan bukanlah hal sepele. Ia melakukan banyak hal untuk berada di titik yang benar-benar melupakan Elric. Jangan sampai upayanya tersebut menjadi sia-sia begitu saja hanya karena dirinya terbuai lagi dengan begitu mudahnya. Sungguh, Ziva tak mau keliru dua kali oleh sikap Elric, mengira pria itu diam-diam menyukainya. Padahal nyatanya sedikit pun tak ada perasaan di hati pria itu. Terlebih setelah ciuman yang tiba-tiba Elric lakukan, bukankah itu membuat Ziva semakin bingung? Maksudnya apa coba? Tanpa ciuman saja, dulu Ziva salah paham. Apa kabar dengan sekarang? Ziva kapok dan sudah tak mau berharap lagi. Hanya karena Elric mencium bibirnya, bukan berarti Ziva akan goyah, mengira pria itu punya perasaan terhadapnya. Tidak akan! Cukup dulu saja Ziva mengharapkan sesuatu yang ternyata sia-sia. Sekarang jangan. Namun, bagaimana jika sekarang Elric sungguh memiliki perasaan padanya? “Enggak mungkin, Ziva!” batin wanita itu, mengingatkan dirinya sendiri agar sadar dan jangan pernah memikirkan sesuatu yang tidak masuk akal. Kalau Elric sungguh ada perasaan padanya, bukankah pria itu seharusnya mencari keberadaannya selama lima tahun belakangan ini? Masalahnya adalah ... hal itu tidak Elric lakukan. Elric justru baru mencari tahu segala tentangnya tepat setelah pesta di vila. Itu pun Elric mencari gara-gara Ziva datang bersama Arda dan diperkenalkan sebagai calon istri pria itu. Jika saja Ziva tidak datang mendampingi Arda ke vila tersebut, bisa dipastikan Elric tidak akan bersikap seperti itu. Jangankan mencium bibirnya, bahkan pria itu belum tentu mencari tahu segala tentangnya. Maka dari itu, Ziva memastikan ciuman dadakan tadi murni kesalahan dan tidak akan pernah terulang lagi. Dan satu-satunya hal paling masuk akal untuk menghindar dari Elric adalah ... Ziva harus menjalin hubungan dengan Arda, sekalipun itu hanya berpura-pura. Dengan begitu, Elric akan menjauh. Sumpah demi apa pun, Ziva benar-benar trauma dengan kesalahpahamannya dulu yang mengira Elric jatuh cinta padanya. Makanya Ziva berjanji hal konyol semacam itu tak akan pernah terulang lagi. “Ziva, aku nggak salah dengar, kan? Kamu mau jadi pacar bohongan aku?” Arda masih tampak heran. Menurutnya apa yang Ziva ucapkan benar-benar seperti sebuah plot twist yang mengejutkannya. “Kamu nggak salah dengar.” “Tapi kenapa?” Arda kembali bertanya. “Seperti kamu yang punya alasan buat menyewa pacar bohongan, sekarang keadaannya berkebalikan. Aku yang butuh pacar bohongan,” jawab Ziva. “Untuk detailnya, aku jelaskan nanti.” Sebenarnya Arda ingin bertanya ‘kenapa Ziva tidak sekalian mencari pacar sungguhan saja?’ Arda siap jika mereka benar-benar berpacaran. Namun, pria itu tidak serta-merta menanyakannya. Biarlah begini saja dulu. Anggap saja menjalin hubungan pura-pura ini sebagai batu loncatan untuk hubungan yang lebih jauh lagi di antara mereka. Bukankah ini kesempatan Arda untuk melakukan pendekatan yang sempurna pada Ziva? Itu sebabnya, tanpa ragu Arda mengiyakan. Bahkan, ia tak peduli apa alasan Ziva ingin mereka berpura-pura pacaran, yang terpenting baginya adalah ... ini adalah kesempatan bagus untuk hubungan mereka ke depannya. Tidak menutup kemungkinan pacaran yang tadinya hanya pura-pura, menjadi pacaran sungguhan saat cinta tumbuh di antara mereka. Siapa tahu? “Kalau begitu oke, aku bersedia,” jawab Arda. “Kamu bebas meminta bantuanku kapan pun kamu butuh. Bertemu siapa pun dan untuk alasan apa pun ... ayo.” Ziva tersenyum. Terlepas dari Arda adalah orang yang menghancurkan mimpi indah Elric lima tahun lalu, Ziva tak akan mempermasalahkan itu. Terlebih menurutnya Arda bukan hanya baik, tapi sangat menghargainya juga. Entah bagaimana ekspresi pria di hadapannya itu andai tahu Ziva adalah mantan istri Elric. *** “Kenapa lo tiba-tiba begini?” tanya Bams. “Oke, gue sadar lo memang bersikap aneh setelah pesta beberapa hari yang lalu, tapi gue kira itu efek lo masih kaget aja karena ketemu lagi sama Arda yang udah menghancurkan rencana pernikahan lo lebih dari lima tahun lalu. Wajar juga misalnya lo masih dendam—” “Lo pikir gue begini karena Arda aja?” potong Elric. “Ini bukan soal si berengsek aja. Gue justru lebih merasa aneh semenjak bertemu Ziva lagi.” “Enggak, lo nggak bakalan begitu kalau Ziva nggak diperkenalkan sebagai calon istrinya Arda. Mungkin harga diri lo merasa terusik karena seakan-akan Arda merebut apa yang lo miliki,” sanggah Bams. “Inget ya El, semua orang yang kenal lo pasti tahu kalau Arda memang merebut Lika dari lo, tapi untuk kasusnya Ziva ini beda. Dia nggak merebut Ziva dari lo. Mereka bersama setelah kalian cerai, bahkan lima tahun lebih udah berlalu.” Bams melanjutkan, “Selain itu, Ziva nggak bisa dibilang mantan istri lo sepenuhnya, kan? Jangan lupa, kalian hanya menikah kontrak dan nggak ada cinta di antara kalian. Sah-sah aja misalnya sekarang dia menemukan cintanya.” “Dari sekian banyak laki-laki di dunia ini, kenapa harus Arda? Gue mungkin nggak masalah kalau itu bukan Arda. Masalahnya ini Arda, cowok yang pengen gue bunuh lima tahun lalu,” marah Elric. “Mungkin udah jodohnya,” balas Bams. “Gue memang sempat heran, apa dunia memang se-sempit ini? Sampai kemudian gue sadar ... nggak ada yang bisa menentukan takdir. Siapa yang menduga kalau Ziva ending-nya malah sama Arda?” “Enggak. Ziva berhak mendapatkan pria yang bersih.” “Lo yakin, kalau misalnya cowoknya bukan Arda ... lo nggak akan begini?” “Lo meragukan itu?” Elric balik bertanya. “Ziva udah gue anggap seperti adik sendiri. Sebagai kakaknya, gue nggak rela dia jadi calon istrinya cowok anjiiing.” Memang benar, lima tahun lalu Elric menganggap Ziva selayaknya teman sekaligus adik. Namun, bagaimana dengan sekarang? Sepertinya Elric masih denial, padahal jelas-jelas ia memandang Ziva dengan berbeda di vila waktu itu. Ziva bukan seorang adik lagi, melainkan seorang wanita dewasa. Elric kembali berbicara, “Pokoknya lo cari tahu lebih jauh lagi tentang bagaimana hubungan mereka bermula. Secara Ziva ini tinggalnya, kan, di Senjaratu. Kok bisa tiba-tiba sama Arda?” “Sedang gue usahakan buat mencari tahu lebih jauh,” balas Bams. “Ah, lo ini padahal bisa mengabaikan mereka, tapi bisa-bisanya malah nambahin kerjaan gue.” “Enggak ada gunanya lo ngeluh. Ujung-ujungnya juga lo tetep kerjain,” kekeh Elric. “Yah, terpaksa. Mau gimana lagi?” balas Bams, ikut terkekeh. Mereka memang se-dekat itu. Sejak dulu hingga sekarang Elric tidak pernah mau dipanggil ‘pak’ oleh sang asisten. Bams kemudian bergegas meninggalkan apartemen Elric. Sementara itu, Elric meraih ponselnya. Ia kembali membuka media sosial Ziva, entah sudah berapa kali ia melakukannya hari ini. Seolah tak pernah merasa bosan. Hal yang menurut Elric merasa aneh adalah ... kenapa Ziva tak pernah FYP atau wara-wiri di explore milik Elric. Bisa-bisanya pria itu baru tahu media sosial Ziva padahal followers-nya sebanyak ini. Ya, Elric heran Ziva sama sekali tak masuk ke dalam algoritmanya. Elric terus membuka satu per satu unggahan Ziva baik itu foto maupun video, entah itu unggahan pribadi, random atau keperluan promosi. Sungguh, semakin larut dalam stalking-nya, Elric semakin sadar kalau gadis polos yang dulu dinikahinya menggantikan Lika, kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat cantik. Bohong kalau Elric tidak terpesona. “Cantik dan ... seksi,” gumam Elric. Apa? Seksi? Faktanya memang begitu. Elric bahkan kini kembali membayangkan saat dirinya dengan penuh keberanian mencium bibir mantan istrinya itu, sesuatu yang sama sekali tak pernah dilakukannya saat mereka masih menikah. Namun, tadi Elric tanpa ragu menikmati bibir Ziva yang seakan candu. Elric tahu ini gila, tapi sekarang ia kembali berdebar hebat. Detak jantungnya seakan berlari saat membayangkan ciuman antara dirinya dengan Ziva tadi. Ciuman yang hot dan membuatnya ingin melakukannya lagi. Sumpah demi apa pun, Elric ingin mencium Ziva sekali lagi. Ia tak peduli Ziva saat ini berstatus calon istri Arda. Elric hanya ingin memastikan, debaran tak wajar yang dirasakannya hanyalah bagian dari nafsu sehingga kecanduan atau keinginan untuk memilikinya sekali lagi? “Entahlah, gue harus memastikan sendiri,” gumam Elric. “Sial, ada apa dengan debaran hebat ini?” batin Elric seraya memegangi dadanya, detak jantungnya benar-benar seperti sedang berlari. Kalau begini caranya, Elric bisa gila. Ya ampun! Atau jangan-jangan pria itu memang sudah gila?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD