Bab 7 - Ahhh, Lingerie!

1600 Words
Ziva sebenarnya tidak terlahir miskin. Sebagai anak tunggal ayah dan ibunya, dari kecil Ziva sudah merasakan kemewahan dan hidup dengan layak. Hobi Ziva adalah bermain piano dan orangtuanya sampai mendaftarkan Ziva untuk les secara privat pada seorang tutor terkenal. Namun, segalanya berubah semenjak Ziva duduk di bangku SMP. Perusahaan ayahnya bangkrut, meninggalkan utang yang sangat besar sehingga mereka harus memulai hidup dari nol lagi. Ah, bahkan dari minus. Mereka yang semula hidup di rumah mewah, pindah ke perumahaan bersubsidi tipe 21 yang sekarang mulai rusak dimakan usia. Dulu, saat ibu Ziva meninggal, sang ayah menikah lagi—dengan harapan ada yang mengurus Ziva. Namun, itu adalah awal dari malapetaka di hidup Ziva karena memiliki ibu tiri yang jahat. Jangankan les piano seperti dulu, uang jajan Ziva pun hanya diberi seadanya oleh sang ibu tiri. Sampai kemudian ayah Ziva meninggal saat Ziva lulus SMA, dunia Ziva benar-benar runtuh. Bagaimana tidak, saat ayahnya masih hidup saja, ibu tirinya sudah berani semena-mena. Tentu saat ayahnya tiada, kegilaan sang ibu tiri semakin menjadi-jadi. Ziva seolah dijadikan sapi perah, yang bukan hanya menanggung biaya hidup ibu tiri dan saudara tirinya, tapi juga harus melunasi utang yang tak ada habisnya. Ziva seharusnya kabur sejak lama. Namun, dokumen-dokumen berharga seperti akta, KTP, ijazah bahkan kartu ATM ditahan oleh Arum. Ya, Ziva memang bodoh karena selalu menurut dan tak berani melawan. Puncaknya, saat ibu tirinya tega menjualnya pada pria tua. Ziva sudah tak memikirkan apa-apa lagi karena yang ada di pikirannya hanyalah kabur, kabur dan kabur. Ziva pernah merasa tak adil dengan hidup ini. Ziva sempat berpikir dirinya terjebak di kegelapan. Entah sementara atau memang permanen, yang pasti Ziva kesulitan untuk menemukan cahaya walaupun sedikit. Gelap, tak ada harapan serta tanpa masa depan. Sampai kemudian, Ziva tiba-tiba menemukan setitik cahaya yang berasal dari tangan Elric. Ya, pria itu seolah membawakan cahaya untuknya. Cahaya yang semakin lama semakin menyala terang. Tak hanya membawa cahaya, Elric juga seakan membawanya keluar dari tempat gelap itu, membebaskannya dari segala penderitaan. “Ya, dia adalah penyelamatku,” batin Ziva sambil menikmati guyuran air yang membasahi rambut dan seluruh tubuhnya. Selesai mandi, Ziva mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk. Saat mengeluarkan isi paperbag yang kata ibu mertuanya spesial, Ziva dibuat melongo karena isinya bukan piama biasa, melainkan lingerie berwarna merah menyala dan sangat seksi. Mana mungkin Ziva memakainya? Namun, memakai lingerie jauh lebih masuk akal daripada memakai handuk yang sangat kecil ini. Memakai baju yang sempat dipakai olehnya pun bukanlah ide bagus karena sudah masuk ke keranjang kotor dan agak basah. Itu sebabnya Ziva terpaksa memakai lingerie dulu hanya untuk sementara. Saat keluar dari kamar mandi, ia akan mengambil piama lalu masuk lagi ke kamar mandi untuk mengganti lingerie dengan piama yang sesungguhnya. “Aku hanya perlu meminta Mas Elric berbalik badan lalu menjelaskan setelah selesai mengganti baju tidur seksi ini dengan piama,” batin Ziva. Dengan jantung yang berdetak sangat cepat, Ziva keluar dari kamar mandi. Sesuai dugaan, suaminya pasti sangat terkejut. Tepat saat Ziva ingin meminta Elric berbalik badan dan jangan menatapnya, pria itu lebih dulu mengajukan pertanyaan. “Kenapa kamu pakai itu?” “A-aku—” “Hanya karena mama ingin kamu memakainya, bukan berarti kamu benar-benar memakainya padahal jelas kamu merasa kurang nyaman,” potong Elric. “Enggak semua perintah harus dituruti. Itu sebabnya ibu tirimu semena-mena menindasmu, karena kamu sangat penurut.” “Bisakah Mas Elric berbalik? Aku mau mengambil piama ganti, tapi nggak nyaman kalau hanya memakai handuk.” Elric kaget, tapi buru-buru memutar tubuhnya. Apa Ziva memang keluar memakai lingerie demi mengambil piama? Bukan karena menuruti mamanya? Beberapa saat kemudian, Ziva terdengar masuk lagi ke kamar mandi. Tak sampai lima menit, wanita itu sudah keluar lagi. Kali ini memakai piama biasa yang memang disediakan untuk Lika. Ya, Elric memang menyediakan pakaian-pakaian baru untuk Lika termasuk piama yang akan dikenakan selagi mereka menginap selama dua hari di hotel. Namun, kini semua pakaian itu milik Ziva. “Maaf untuk yang tadi. Saya sempat mengira kamu terlalu nurut, sampai-sampai mau aja disuruh pakai lingerie,” ucap Elric. “Tapi sekarang semua udah jelas, kan?” Elric mengangguk-angguk. “Maaf ya Ziva, mama hanya tahu kalau kamu pengantin pengganti Lika dan dewi penyelamat keluarga kami. Hanya saja, dia nggak tahu kalau kita punya kesepakatan yang hanya kita yang tahu,” ucap pria itu. “Ah, secara teknis bukan kita berdua aja yang tahu karena Bams juga tahu. Dia bahkan yang mengurus segalanya, termasuk surat kontraknya,” sambung Elric. “Maksudnya, mamanya Mas Elric mengira kita menikah sungguhan?” Elric mengangguk-angguk. “Kok bisa? Padahal pernikahan kita bisa dibilang nggak masuk akal. Mana mungkin ada yang percaya kalau kita menikah sungguhan?” “Ada. Keluarga saya percaya,” jawab Elric. “Kalau gitu saya mandi dulu.” Elric lalu bergegas mengambil handuk lalu buru-buru masuk ke kamar mandi. Bukannya apa-apa, pria itu sudah tak tahan lagi. Gara-gara melihat Ziva memakai lingerie tadi, milik-nya masih saja tegang. Padahal sudah dialihkan dengan cara mengobrol. Maka dari itu, di sinilah Elric sekarang. Di dalam kamar mandi, pria itu mulai melakukan aktivitas mandiri yang akan memberinya rasa nikmat yang luar biasa. Elric mustahil mengajak Ziva malam pertama sungguhan sekalipun nafsu pria itu berhasil terpancing dan kini semakin menggila. “Ahhh, lingerie sialan...,” lirih Elric sambil membayangkan Ziva. Ia juga terus memainkan jari-jarinya hingga klimaks yang didambakannya mulai datang. “Ahhh....” Elric baru benar-benar plong setelah keluar. *** Selagi Elric di kamar mandi, Ziva tak henti-hentinya mengagumi kamar hotel yang seolah ikut merayakan pernikahan mereka. Dekorasinya begitu niat, hingga tempat tidur pun ditaburi bunga yang membentuk simbol cinta. “Andai saja staf hotel yang menyiapkan semua ini tahu kalau pernikahan kami hanyalah sementara,” batin Ziva, sembari menatap bunga-bunga berbentuk hati di atas ranjang. Tiba-tiba, terdengar pintu kamar mandi dibuka. Ziva langsung memutar tubuhnya, menghadap ke arah Elric yang baru selesai mandi. Pria itu sama sepertinya, memakai piama. Tunggu, bahkan warna dan model piamanya sama. “Piamanya couple. Jangan heran kalau kembar.” Ziva tersenyum. “Baru mau heran,” ucapnya. Jeda sejenak. Elric saat ini sudah mengambil posisi duduk di sofa. “Duduklah. Kita perlu bicara, bukan?” Ziva mengangguk, lalu mengambil posisi duduk di sofa yang berseberangan dengan yang suaminya duduki. “Kita di hotel ini sampai besok. Selanjutnya, kita bakal tinggal bersama di apartemen saya.” “Apartemen yang semalam aku menginap?” tanya Ziva kemudian. “Ya, benar,” jawab Elric. “Seperti yang saya udah katakan kalau keluarga saya mengiranya kita menikah beneran. Jadi setiap di depan mereka, bisakah kita bersikap selayaknya suami-istri?” “Kenapa nggak jujur aja? Ini, kan, bukan salah Mas Elric. Toh keluarga Mas Elric tahu kalau masalahnya berasal dari Lika. Aku pikir mereka akan memaklumi.” “Inilah yang ingin saya bicarakan. Mungkin ini terkesan saya seperti dikasih hati minta jantung, tapi saya memang butuh bantuan kamu.” “Mas Elric ingin kita bersandiwara, kan? Seolah kita suami-istri beneran?” Elric mengangguk. “Kosan putra tempat pertama kita bertemu kemarin malam, kamu ingat?” “Mana mungkin lupa,” balas Ziva. “Seharusnya itu menjadi hadiah pernikahan, tapi keluarga saya memutuskan menunda serah-terima kepemilikannya. Saya pikir, jangan-jangan ini ada hubungannya dengan pernikahan yang tiba-tiba ganti mempelai perempuannya?” Elric selanjutnya menjelasakan kalau dirinya adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya adalah pria. Mereka bertiga tidak bermusuhan atau berebut warisan, tapi jika ada celah untuk mendapatkan lebih banyak ... siapa pun akan maju paling depan. Apalagi jelas-jelas ada yang melanggar aturan, takutnya pernikahan kontrak ini akan dijadikan senjata lalu Elric dianggap tidak layak. “Selain menyelamatkan reputasi keluarga, yang pastinya akan menanggung rasa malu jika pernikahan dibatalkan begitu aja. Apalagi alasan batalnya benar-benar mencoreng nama baik ... pernikahan yang kita jalani juga ibarat menyelamatkan hadiah pernikahan yang memang berhak saya dapatkan.” Ziva mengangguk-angguk. “Sekarang aku paham Mas Elric melakukan berbagai cara untuk tetap melanjutkan pernikahan, sekalipun dengan mempelai pengganti.” “Saya pun tadinya mau jujur tentang pernikahan kontrak kita. Tapi setelah dipikir-pikir, lebih baik hanya kita berdua aja yang tahu. Ah, bertiga sama Bams,” kata Elric. “Intinya saya ingin kamu tahu alasannya aja kenapa begini. Barangkali sewaktu-waktu kita perlu berakting selayaknya pasangan beneran di hadapan keluarga, kamu nggak merasa kaget.” Sekarang Ziva paham tadi Sophia sangat baik padanya, memperlakukannya selayaknya menantu sungguhan. Ya, Sophia mengira ini pernikahan sungguhan sekalipun mendadak. Tadinya Ziva menduga mamanya Elric bersikap demikian hanya karena Ziva menyelamatkan putranya dari pernikahan yang seharusnya gagal. Rupanya wanita paruh baya itu mengira Ziva benar-benar menantunya. “Kamu siap, kan? Seandainya saya tiba-tiba minta tolong berakting?” “Selamat, Mas Elric menikahi mempelai pengganti yang tepat karena gini-gini juga ... aku jago akting.” Elric tersenyum. “Saya janji kamu akan mendapatkan kompensasi yang besar karena job tambahan ini.” Pria itu melanjutkan, “Tapi tenang aja, acara keluarga itu relatif jarang, kok. Hanya pada saat-saat tertentu aja.” “Aku akan bekerja sama dengan baik.” “Kalau begitu, mari tanda-tangani ini,” ucap Elric. “Beneran pakai tanda tangan segala?” Ziva kira Elric bercanda saat mengatakan akan ada dokumen kesepakatan yang perlu mereka tandatangani. Ternyata memang serius. “Ya iya dong. Buat pegangan masing-masing, di sini tertulis segala aturan yang boleh dan nggak boleh dilakukan, dan yang terpenting ... hak yang kamu dapatkan setelah kita bercerai nanti,” jelas Elric. “Silakan, kamu bisa baca dulu.” Setelah Ziva membacanya dan tidak ada poin yang membuatnya keberatan, wanita itu kemudian membubuhkan tanda tangan di atas namanya. Elric pun melakukan hal yang sama. Dengan begitu, kesepakatan mereka resmi dan tertulis hitam di atas putih. Ini keputusan yang benar, kan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD