Keesokan harinya, Leo terbangun di atas ranjangnya dengan kepala berdenyut-denyut, serasa pelipisnya dihantam berkali kali. Dia menggerakkan tangannya ke sisi tempat tidur. Yang dia temukan hanyalah kain seprai yang dingin dan berkerut. Leo membalikkan tubuh. Ranjang itu setengah kosong. Bantal sebelah masih menyimpan lekukan kepala, tetapi Aurora sudah pergi. Kenangan semalam kembali mengalir deras dalam ingatannya. Leo mendesah, mengusap wajahnya. Dia duduk di tepi ranjang, tubuhnya terasa pegal. Dia mencoba mengingat wajah Aurora di puncak gairah, adakah tanda tak rela? Atau hanya kepasrahan pada reaksi obat yang menguasai tubuh mereka? Rasa bersalah mulai menggerogoti, meski akal sehatnya berteriak bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Leo bangkit, berjalan ke kamar mandi.

