Malam itu suasana kamar Fabian jauh lebih tenang dibandingkan pagi sebelumnya. Lampu tidur menyala redup, memantulkan cahaya hangat di dinding. Fabian sudah tidak meringkuk lagi. Ia duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeluk boneka dinosaurusnya, wajahnya terlihat lebih segar, tidak pucat seperti tadi. Celine duduk di sisi ranjang, menyuapi Fabian bubur hangat pelan-pelan. “Pelan, ya. Jangan buru-buru.” Fabian membuka mulut patuh, lalu mengunyah sebentar. “Perut Fabian udah gak sakit, Mama.” Celine tersenyum lega. “Beneran?” “Iya,” jawab Fabian cepat. “Gak diputer-puter lagi.” Frans yang berdiri tak jauh dari situ langsung mendekat. “Coba Papa pegang perutnya, ya.” Fabian mengangguk. Frans menempelkan tangannya pelan di perut kecil itu. Fabian tidak meringis, malah tertawa

