Jeritan Alana menggema di dalam ruang tahanan wanita malam itu. Tangannya mencengkeram jeruji besi dengan wajah penuh amarah dan mata merah yang sudah bengkak karena tangis bercampur kemarahan. Para tahanan lain hanya menatapnya malas, sebagian bahkan menutup telinga. “Lepaskan aku! Aku bukan penjahat! Kalian nggak tahu siapa aku!” teriaknya keras sambil menendang pintu sel, membuat dua sipir yang berjaga di ujung lorong menatap kesal. “Diam, Alana! Kau sudah bikin semua orang di sini pusing!” bentak salah satu sipir wanita, menatap tajam ke arah Alana. Namun Alana justru semakin menjadi-jadi. “Aku nggak akan diam sebelum kalian semua tahu aku dijebak! Aku akan menyewa pengacara terbaik, aku punya uang, aku punya koneksi! Aku bisa keluar dari tempat busuk ini kapan pun aku mau!” Sipir

