Pagi itu suasana rumah terasa tegang. Fabian, yang biasanya ceria, tiba-tiba menangis lemah dan tubuh mungilnya terasa hangat saat Celine mengelus dahinya. Panik langsung merayapi hati Celine. Tangannya gemetar saat memegang ponsel, menekan nomor Frans dengan cepat. “Frans! Pulang sekarang! Fabian demam, aku tidak tahu harus berbuat apa!” teriak Celine sambil menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Suaranya terdengar panik dan gemetar, membuat Frans yang berada di kantor segera berdiri dan menyiapkan diri untuk pulang secepat mungkin. Dalam perjalanan pulang, Frans mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia menghela napas panjang, memikirkan cara menenangkan Celine dan bayi mungil mereka. Sesekali ia menoleh ke jalan di depannya, berharap waktu berjalan lebih cepat. Hatin

