Celine berdiri di dapur dengan celemek terpasang rapi di tubuhnya. Rambutnya diikat sederhana, tangannya sibuk menakar tepung ke dalam mangkuk besar. Aroma mentega yang meleleh perlahan di atas kompor sudah mulai memenuhi ruangan, membuat suasana rumah terasa hangat dan akrab. Di ruang tengah, Fabian sedang duduk lesehan bersama Luna dan Leon. Ketiganya mendadak berhenti bermain balok ketika aroma manis itu sampai ke hidung mereka. Fabian mengendus-endus. “Hmm… Mama masak apa?” Luna langsung berdiri. “Wanginya enak.” Leon ikut bangkit, matanya berbinar. “Biskuit?” Fabian menoleh cepat ke Leon. “Biskuit ya, Ma?” Celine menoleh sambil tersenyum. “Iya, Mama lagi bikin biskuit.” Belum sempat Celine melanjutkan pekerjaannya, tiga pasang kaki kecil sudah berlari menuju dapur. “Fabia

