Pagi itu rumah terasa lebih sibuk dari biasanya. Matahari belum terlalu tinggi ketika Frans sudah berada di ruang gym kecil di lantai bawah bersama Fabian. Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi lengkap—ada treadmill, barbel, matrays, dan beberapa alat latihan lain yang jarang disentuh selain oleh Frans. Fabian berdiri di depan cermin besar, meniru gerakan Papanya dengan serius. Tangannya kecil tapi berusaha mengangkat dumbbell rhingan yang memang sengaja dibelikan Frans untuknya. “Satu… dua… tiga…” hitung Frans tegas. Fabian mengikuti, wajahnya serius sekali, keningnya berkerut. Keringat kecil mulai muncul di pelipisnya. “Bagus,” kata Frans. “Tapi jangan terlalu dipaksa.” Fabian mengangguk. “Fabian mau kuat kayak Papa.” Frans tersenyum tipis. Ia melirik jam di dinding. Sudah hampir s
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


