Pagi itu, langit masih pucat ketika Frans sudah bersiap-siap di depan cermin. Ia mengenakan kemeja biru muda, merapikan dasinya, lalu menyemprotkan sedikit parfum. Celine yang masih mengantuk memperhatikannya sambil duduk di tepi ranjang, memeluk bantal dan menguap kecil. Frans menoleh sekilas dan tersenyum. “Aku berangkat dulu ya. Ada rapat penting pagi ini.” Celine mengerucutkan bibir. “Tumben banget kamu rajin. Kemarin-kemarin santai terus di rumah.” Frans tertawa sambil mengambil jasnya. “Makanya hari ini harus bayar waktu yang kemarin. Jangan lupa sarapan, ya.” Celine mengangguk pelan. “Nanti aku sama Fabian main di halaman belakang. Dia lagi suka sekali main tanah.” Frans berjalan mendekat lalu mencium kening istrinya. “Jangan biarkan dia makan tanah lagi.” Celine langsung

