Bab 8: Rencana Touring

1012 Words
“Fan, jadi ikut touring kan?” tanya Bagus, teman satu kampus Refan setelah mereka selesai kuliah. “Yang ke Dieng?” “Iya.” “Nanti aku lihat jadwal kursusku. Sudah hampir ujian soalnya.” “Kursus apa sih? Inggris?” “Iya.” “Kamu kan udah lancar.” “Aku butuh sertifikat bahasa inggris.” “Buat apa? Mau nyari beasiswa ke luar?” Refan mengangguk. “Nanti aku kabari kamu deh kalau jadi ikut.” “Oke. Soalnya temen cewekku ada yang kepingin ikut. Kalau kamu bisa kan bisa bonceng kamu.” Refan tersenyum canggung. Ia berpamitan pada Bagus dan segera pergi. Dia sudah tak punya jadwal kuliah lagi hari ini. Dan dia sudah berencana untuk mengirimkan foto-foto yang sudah ia cetak pada anak-anak di Nanggulan. Refan jelas tak suka dengan ide temannya itu yang hendak menitipkan orang lain untuk memboncengnya. Bukan perkara ia tak mau diboncengi. Hanya saja, ia memang tak suka berboncengan dengan orang baru untuk jarak yang tak dekat. Apalagi dengan perempuan. Lebih baik, Refan pergi sendiri. Meski lebih berisiko melakukan perjalanan seorang diri, tapi menjadi solo traveller seakan memberi ketenangan tersendiri bagi Refan. Ia bisa mengatur ritme perjalanan sesuai dengan kebutuhannya tanpa perlu pertimbangan banyak kepala. Setelah mengirimkan foto cetakannya, ia langsung pulang ke rumahnya. Ibunya juga baru sampai rumah saat Refan sampai di rumah. “Kok sudah pulang?” “Kayaknya kebalik deh yang harus nanya begitu. Jam kerja Ibuk kan sampai jam empat.” “Ibuk sudah selesai ngajar. Dan jam kerja Ibuk bukan hanya sampai jam empat, kadang dari habis subuh sampai tengah malam masih harus ngurus kerjaan.” “Makanya Refan gak mau jadi guru. Pulang gasik sesekali aja dijulidin, padahal lebih banyak overtime yang gak dibayar.” “Terus mau jadi apa? Dosen?” “Duitnya dikit.” “Kata siapa?” “Sosial media.” “Kamu udah makan belum, Fan.” “Belum. Lauk pagi masih ada kan?” “Ibuk panasi ya. Kamu tunggu sebentar.” Refan masuk ke kamarnya. “Fan, minta tolong jemput adikmu ya nanti.” “Biasanya juga Bapak.” “Mumpung kamu sudah di rumah. Bapak biar bisa langsung pulang, gak usah muter ke sekolah.” “Iya. Nanti.” “Terimakasih, Anak Pintar.” Ibuk memang kerap memanggil anak-anaknya dengan sebutan seperti itu. Anak pintar. Anak Sholeh. Anak baik. Dan entah sebutan baik apa lagi. Dulu, Refan kecil kerap protes ketika sebutan itu diucapkan di depan orang lain. Ia terlalu malu untuk mendengarnya. Tak paham bahwa bagi Ibuk, sebutan baik itu adalah doa yang senantiasa ia langitkan. * “Jadi mau ke Dieng?” tanya Ibuk saat Refan menyantap makan siangnya. “Enggak ikut kayaknya.” “Kenapa?” “Bagus mau bawa ceweknya. Dan ceweknya mau ngajak temennya. Aku disuruh boncengin.” “Ya gak apa-apa dong. Siapa tahu cocok jadi temen.” “Enggak ah. Males.” “Ibuk khawatir lho kalau kamu males berteman sama cewek.” “Apaan sih, Buk. Kata Ibuk ucapan itu adalah doa.” “Astaghfirullah. Ya bukan berarti Ibuk mendoakan. Ibuk kan cuma khawatir, temenmu udah putus nyambung berapa kali tuh.” “Gak ada relevansinya.” “Ya. Ya. Ya. Tapi kasih tahu Ibuk ya kalau ada yang kamu taksir. Atau mau sama murid Ibuk? Yang kuliah di jurusan keren banyak lho.” “Enggak. Ibuk jangan bikin malu ah.” “Ya kan namanya usaha, Refan. Promosiin anak sendiri apa salahnya.” “Malu tahu.” “Atau nanti kemping aja kita ke Dieng kalau kamu gak jadi touring. Tapi nunggu libur sekolah ya.” “Emang Ibuk ada liburnya? Yang ada ngurusin pendaftaran siswa baru lah, jadwal baru.” “Ya kalau sudah kita rencanakan Ibuk kan bisa ambil cuti dulu.” “Tapi aku boleh bawa motor aja ya?” “Ya kamu gantian nyetir sama Bapak dong.” “Kan ada Ibuk.” “Ibuk kan punya kamu, Refan Sayang.” Refan berdecak. Mana pernah ia menang berdebat dengan ibunya. * Refan sedang mencuci sepeda motornya di depan, saat ayahnya duduk di teras, minggu pagi itu. “Kata Ibuk kamu gak jadi ikut touring ke Dieng?” “Enggak. Mereka pada pada cewek.” “Mas kan bisa bawa aku.” “Nah tuh bawa Lia aja,” kata Bapak. “Enggak. Kamu cerewet.” “Kan pas sama Mas Refan yang pendiam. Biar gak kayak kuburan kalau pendiam semua,” kata Lia. “Nah tuh bener kata adikmu.” “Jangan-jangan nanti Refan jodohnya sama yang cerewet ya, Pak,” kata Ibuk yang sedang menyiangi tanaman. “Ibuk apaan sih, selalu ke sana omongannya,” protes Refan. “Mau sama Bapak aja ke Dieng motoran?” “Mau, Pak. Aku bonceng Bapak aja. Ibuk biar sama Mas Refan,” Lia yang menyahut. “Gak kemping aja sekalian?” “Dingin ah di sana, gak mau,” kata Lia. “Lah kamu motoran sama Bapak, emang pinggang Bapak kuat?” kata Ibuk. “Bisa ya, Pak?” “Ya nanti kita bisa gantian bawanya.” “Lia di jalan lurus aja gradak-gruduk bawa motornya, mau Bapak suruh bawa ke Dieng? Mission impossible,” olok Refan. “Mas jangan ngeledek. Aku tuh karena kurang jam terbang aja. Lah wong kalian berebut pingin anterin aku terus.” “Kalau jadi kemping nanti biar Ibuk sama Bapak urus cuti dulu.” “Aku bawa sleeping bag aja nanti ah,” kata Lia. “Emang kamu punya?” “Pinjem dong. Atau ke Magelang aja, Pak, yang deket. Berangkat pagi, pulang sore. Kalau Bapak capek bisa nginep sama Ibuk. Aku pulang sama Mas Refan biar ngirit kan hotelnya cukup satu.” “Lia kadang pinter juga ya,” puji Bapak. “Cuma kadang doang nih? Padahal aku susah payah berusaha biar gak perlu sekolah di sekolahnya Ibuk,” protes Lia. Bapak tertawa. “Tapi sekolahnya Ibuk enak lho, Li, gak banyak tugas. Kamu bisa ranking satu terus kalau di sana,” kata Refan. “Hei, kalian kenapa jadi bahas sekolahnya Ibuk,” Ibuk berdiri sembari berkacak pinggang membuat ketiganya tertawa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD