Gianna malah tertegun kaku di sisi mobil. Sekarang rasanya, ia ingin sekali menghilang detik itu juga dari muka bumi ini. Kenapa bisa-bisanya, mereka malah datang ke sini? Ke tempat dimana semua kekacauan hidupnya bermula. Kalau ia sampai datang ke sana, apa laki-laki gila itu tidak akan mengamuk lagi? Bisa-bisa, ia dicekik sampai mati. "Ayo kita masuk," ajak Sakha dan Gianna masih tetap diam dengan sejuta kegundahan hatinya. Raut wajahnya bahkan nampak gusar. Dia tidak sampai hati menolak ajakan atasannya ini. Apa lagi, itu adalah sebuah perintah kerja. Lantas, bagaimana sekarang? Datang? Atau malah jangan? Ia butuh pekerjaan tapi ia takut masa lalunya kembali membayanginya lagi. Meneror seperti tidak mau berhenti sampai dirinya ini mati. "Ayo, Gianna. Kamu tunggu apa lagi?" desak Sakha

