Ezra duduk tanpa sanggup berkata-kata menatap orang tua dan kedua adiknya. Rumah mereka masih sama seperti dulu. Sederhana, tapi hangat. Makanan di atas meja itu sering kali membuatnya berderai air mata, karena tak bisa lagi merasakan masakan mamanya. Tidak akan ada yang bisa menyamai rasanya. Kadang disuatu tempat dan waktu saat disuguhi makanan yang sama, dia mati-matian menahan air mata. Ke ujung dunia manapun tidak mungkin bisa seperti olahan mamanya. “Ezra ….” Panggilan lembut mamanya justru membuat Ezra tergugu pilu. Dia tahu ini hanya mimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata. Ingatan melihat tubuh mereka berempat bergelimpangan bermandi darah, membuatnya sakit bukan main. Ataukah dia juga sudah mati? Makanya bisa kembali kesini dan bertemu keluarganya. “Maaaa … kangen ingin dipe

