3. Hati yang Terluka

1254 Words

“Fel, suka pergi sama Uncle dokter. Besok-besok lagi ya?” Baik Kikan maupun Halim terkejut mendapati Felo mengatakan itu pada Halim sambil menatapnya lekat. Menunggu respons Halim. Mata yang berbinar indah, begitu murni dan polos, mengantarkan sebuah rasa tenteram dalam hatinya hingga kedua sudut bibir Halim tertarik, membentuk senyum, “Boleh, Uncle juga suka bertemu Felo yang manis.” Felo turun dari kursinya kemudian memeluk Halim, membuat pria itu terdiam cukup lama, meresapi rasa hangat yang menyusup ke hatinya. Begitu juga Kikan yang tersenyum menyaksikannya, hanya beberapa detik kemudian sesak mulai merambati hati ketika di pandangannya seolah ia bisa membayangkan Felo sedekat ini dengan ayahnya—andai saja Ayah Felo adalah pria yang bertanggung jawab dan tidak menyakitinya. Kikan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD