7. Ternyata Sulit!

1542 Words

“Ini sesuatu yang jarang terjadi, kamu menghubungiku lebih dulu.” Sindir pria yang punya wajah seperti dirinya. “Aku tidak mengganggumu kan?” Halim merindukan keluarganya yang di Jakarta, tidak mudah mengambil keputusan untuk menetap di Jerman dan jauh dari semua keluarganya. Halim berharap luka tidak kasat mata dalam hatinya membaik hingga ia siap untuk kembali ke Jakarta tanpa merasa takut terluka ketika suatu saat waktu mempertemukannya lagi dengan Lou. “Tidak si kembar baru tidur, hanya saja kamu menelepon ketika aku baru bersemangat modusin Lea. Biar dapat jatah dari sore.” Halim menatap datar. “Simpan bagian itu untuk dirimu sendiri.” “Kupikir kamu mau dengar, siapa tahu jadi ngebet kawin. Hehe…” Jika saja Hamish ada depan matanya, sudah Halim tendang kakinya. “Ada apa? kamu b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD