“Anak-anak kita jauh lebih bisa dan baik dalam memutuskan yang mereka inginkan, dibanding kita dulu.” Elana yang sedang mengatur hidangan ke dalam piring, sampai berhenti—untung saja tidak menjatuhkannya—saking terkejut dapati seseorang mendekat, langsung menyampaikan kalimatnya. Ia menarik napas dalam-dalam, pilih menunda, langsung meletakan wajan ke atas kompor kembali. Tanpa perlu menoleh, ia sangat mengenal suaranya. Elana berbalik, lalu langsung berhadapan dengan Hestia yang sudah berhenti hanya dua langkah dari posisinya berdiri. Sepasang mata Elana dan Hestia bertemu, membawa kilasan masa lalu antara mereka hingga kini sama-sama menemukan banyak perubahan. Hestia masih seanggun dulu, meski rajin perawatan, suntik botox, tarik benang dan lainnya, tetap saja ada tanda-tanda penu

