Tiga tahun kemudian... Reema melirik Dante yang tengah duduk di meja makan, tetapi urung menyentuh minum atau makanannya. Tangannya sibuk mengendong Reva yang bersandar padanya, tangan putri cantiknya tengah memainkan dasi yang menggantung di leher papanya. Sementara Avareen duduk di kursinya dan sibuk dengan roti di tangan kanan, lalu segelas suusu ditangan lainnya. “Mau ikut Papa!” ucap Reva sambil mencebikkan bibir. Matanya sembab, sejak bangun sudah manja dan nangis melihat Mama Reema merapikan koper papanya. Tiap kali Dante akan keluar kota, Revaya Delisse Kanaya yang akan paling sulit memberi izin. “Papa kelja adek, kelja...” Ava ikut menanggapi dengan mulut penuhnya. Dante menatap putra sulungnya, selain suka makan, putranya terbilang pendiam kecuali saat bersama keluarganya.

