Delica datang dengan langkah tenang ke apartemen Dante dan Reema. Walau wajahnya terlihat kelelahan karena bolak-balik mengurus Mami di rumah besar, matanya tetap teduh dan penuh pengertian. Reema yang membukakan pintu langsung terkejut, tidak menyangka akan kedatangan Delica seorang diri. “Delica?” Reema sempat ragu menyebut nama itu, meski ia sudah hafal wajah iparnya. Reema gugup, karena ini pertama kali mereka bertemu tetapi bukan dikantor melainkan Reema berada di apartemen Dante. Menegaskan jika mereka tinggal bersama. “Boleh aku masuk?” tanya Delica lembut, tersenyum samar. Reema mengangguk cepat, lalu mempersilakan, “te-tentu saja...” Jantungnya berdetak lebih kencang, sebab ia tahu percakapan ini pasti akan berkaitan dengan Mami. Dan sejujurnya, ia belum benar-benar siap se

