SISA GAIRAH DI BAWAH SERVER DAN KELULUSAN YANG MEMBEKAS

1707 Words
⚠️ PERINGATAN KONTEN KHUSUS DEWASA (18+) Novel ini mengandung konten pornografi eksplisit, deskripsi anatomis yang sangat gamblang, adegan seksual yang intens, bahasa kasar, dan komedi erotis d***o. Segala tindakan dalam cerita ini adalah fiksi dan hanya ditujukan untuk pembaca dewasa. Suasana di kolong meja server Lab Multimedia 1 itu benar-benar kacau balau. Aroma amis s****a yang baru saja disemprotkan Sam dengan beringas bercampur aduk dengan bau keringat gairah dan sisa-sisa parfum stroberi busuk yang makin menyengat. Seli masih terkapar lemas, dadanya naik turun dengan cepat di atas bidang d**a Sam yang juga masih tersengal-sengal. Sam bisa merasakan detak jantung Seli yang berdegup kencang, seirama dengan denyutan di pangkal pahanya. Meskipun Sam sudah meledak, si Joni ternyata masih belum mau sepenuhnya tidur. Batang yang masih ungu lebam itu tetap tertanam kokoh di dalam lubang Seli yang panas dan menjepit kencang. Setiap kali Sam mencoba bernapas panjang, Joni berdenyut di dalam rahim Seli, memicu sensasi geli yang luar biasa. "Aaaah... Sam... s-stop... jangan digerakin dulu," rintih Seli pelan, suaranya parau habis teriak klimaks. "Joni lu masih kedut-kedut di dalem... geli banget dongo... mmmph!" Sam meringis d***o, matanya masih merem-melek menikmati sisa kenikmatan. "Gua nggak gerakin, Sel... itu dia gerak sendiri. Kayaknya sisa-sisa p**u gua masih mau keluar semua. Duh, jepitan lu kenceng bener sih, kayak tang jepit baut mesin!" Sari, yang duduk bersimpuh di samping mereka sambil merapikan helai rambutnya yang basah, menatap pemandangan itu dengan mata binal yang puas. Ia mengelus kepala Sam dengan lembut. "Puas kan lu berdua? Liat tuh, cairan Sam sampe luber-luber keluar dari sela paha Seli. Sam, lu bener-bener monster. Akhirnya... penantian gua dapet k****l lu terbayar lunas hari ini." "Gua... gua nggak nyangka bisa se-barbar ini, Sar," balas Sam dengan suara berat. "Tapi ini gimana? Kita harus segera bangun sebelum ada yang curiga." "S-Sam... cabut pelan-pelan," bisik Seli. "Gua berasa penuh banget... aduh, p**u lu anget banget di dalem... tapi gua takut hamil d***o! Ini kan pertama kali gua! Kalo jadi orang gimana?!" Sam perlahan memegangi p****t seli yang posisinya menindih badan sam terlentang dan mengangkat pinggulnya, menarik Joni keluar dari sarangnya. SLUUP... PLOP! "AAAH... SAM.." Seli merasakan k****l sam keluar. Bunyi itu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi. Seketika, cairan putih kental yang tadinya tertahan langsung meleleh deras keluar dari m***k Seli, membasahi lantai keramik Lab Multimedia. "Tuh kan! Luber ke lantai! Sam, tanggung jawab lu kalau gua hamil!" Seli mulai tantrum, wajahnya merah padam antara malu, panik, dan masih sisa-sisa enak. "Tenang aja kenapa sih Sel, d***o kok dipelihara," tukas Sari sambil mulai memakai bra dan kemeja putihnya. "gak usah khawatir sel, masa subur lu belum masuk. Lagian tadi Sam crotnya dalam banget, pasti udah nyampe tujuannya. Kalo hamil ya nikah aja, ijazah udah dapet kan?" "Nikah pala lu peyang Betina t***l! Gua mau kuliah, Sari c***l!" Seli ngedumel sambil buru-buru menyambar k****t pink-nya yang sudah basah kuyup di bagian tengah. Ia mencoba membersihkan sisa p**u di paha dengan tisu yang ia temukan di saku roknya. Sam sendiri dengan susah payah memakai celana olahraga birunya. Ia tidak memakai k****t karena kancutnya. Alhasil, si Joni yang masih setengah tegang dan berdenyut-denyut itu langsung bersentuhan dengan kain celana olahraga. "Duh... geli banget... Joni gua kedut-kedutan kena kain," gumam Sam sambil meringis d***o. "Udah, cepet pake baju kalian!" perintah Sari. Ia mengambil ponselnya, lalu di depan mata Sam dan Seli, ia menekan tombol hapus permanen pada folder 'asuransi' miliknya. "Nih, liat. Foto kalian pas lagi tindih-tindihan tadi udah gua apus. Gua bukan penjahat, gua cuma pengen kita bertiga ngerasain surga dunia bareng-bagusan." "Janji ya lu nggak ada cadangannya?" tanya Seli curiga sambil mengancingkan bajunya yang berantakan. "Demi Tuhan, Seli sayang. Sekarang ayo keluar. Inget, pasang muka sok suci kayak biasa," Sari tersenyum lebar, kembali merapikan hijabnya sampai terlihat sangat alim, seolah dia baru saja selesai membaca buku di pojok ruangan. Sam menatap Seli yang sekarang sudah resmi tidak perawan. Wajah Seli terlihat sangat berbeda; ada aura "matang" yang tersisa dari pergulatan binal tadi. Seli yang biasanya judes jutek, sekarang jadi sering mencuri pandang ke arah s**********n Sam dengan muka memerah. Sepertinya, m***k Seli sudah mulai ketagihan rasa Joni Sam. "Woy, Sam! Ijazah lu jangan ketinggalan!" teriak Sari. Sam tersentak. Ia menyambar map ijazah merahnya yang tergeletak di pojok. Namun, dalam kepanikan itu, Sam benar-benar lupa kalau celana abu-abu sekolahnya yang tadi terkena tragedi "berak cepirit" sisa panggung masih tertinggal di toilet yang sedang di jemur oleh sam. Celana yang penuh noda cokelat dan bau tai itu teronggok malang di sana, terlupakan oleh pemiliknya yang otaknya masih penuh dengan bayangan m***k pink Sari dan m***k daging Seli. DI DEPAN GERBANG SEKOLAH. Matahari sudah hampir tenggelam sempurna, menyisakan langit merah darah yang dramatis. Di depan gerbang SMK Astapura 1, tiga manusia sudah berdiri dengan muka dongkol maksimal. Donald yang gendut sedang asyik mengunyah gorengan bakwan yang baru dibelinya lagi karena gorengan sebelumnya sudah ludes. Lemaknya menetes di sudut bibir. Di sampingnya, Arron si anak pintar yang selalu juara kelas tapi d***o kalau urusan cewek, terus-terusan melihat jam tangannya. Dan Jessica, si anak orang kaya yang hobi membual, sedang asyik memoles lipstik merahnya sambil bergaya sok dewasa. "Lama bener sih si Sam sama Seli! Gua cariin ke toilet, ke gudang, sampe ke kantin nggak ada!" Donald mengomel dengan mulut penuh bakwan. "Apa jangan-jangan mereka berdua lagi nanem benih Ron!, Wah Babi kalo beneran si sam sama seli?!" "Tadi kita udah cek ke Lab Multimedia juga kosong melongpong!" seru Donald lagi sambil nyembur-nyembur remahan bakwan. "Curiga gua, jangan-jangan mereka m***m di sekolah!" "Mungkin mereka lagi konsolidasi soal masa depan, Don," sahut Arron sok bijak. "Tapi aneh juga, Sari yang biasanya hobi baca buku di pojokan juga nggak kelihatan dari tadi." "Halah, bener apa kata lu don, palingan si Sam lagi mojok sama Seli," Jessica menyahut sinis. "Gua sih udah biasa ya urusan gitu-gituan. n*****t itu mah hal kecil buat gua, udah sering gua mah sama cowok-cowok di klub malam." Padahal dalam hati, Jessica gemetar karena sebenarnya dia masih perawan ting-ting dan cuma bisa ngebual biar kelihatan "wah". Tiba-tiba, dari arah gedung sekolah, muncul tiga sosok yang berjalan dengan tempo berbeda. Sari berjalan paling depan dengan langkah sangat tenang, tangannya memeluk buku tebal, wajahnya berseri-seri penuh kedamaian hijab. Di belakangnya, Seli berjalan sambil menunduk, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus, dan sesekali membetulkan posisi roknya yang terasa "lengket". Paling belakang, Sam berjalan sedikit ngangkang dengan celana olahraga biru, wajahnya tampak lelah tapi matanya menyimpan kepuasan binal. "WOIIII BABI NGESOT! DARI MANA AJA LU PADA?!" teriak Donald sampai bakwannya hampir muncrat. "Kita cariin ke Multimedia nggak ada, ke toilet nggak ada!" "Anu... itu... tadi kita di belakang gedung, bantuin Sari nyari bukunya yang jatuh ke selokan," jawab Sam ngeles asal-asalan. "Bukunya jatuh ke selokan apa lu yang jatuh ke pelukan Seli, Sam?" goda Donald sambil tertawa d***o. "Muka lu pucat amat kayak abis dikuras tenaganya!" "Berisik lu Don! Orang lagi capek juga!" Seli langsung tantrum, matanya melotot tapi suaranya agak bergetar. "Sel, kok rambut lu agak basah gitu? Lu abis keramas di sekolah, apa lu m***m sama si sam?" tanya Jessica sambil mendekati Seli, hidungnya mengendus-endus udara. "Wangi stroberi... tapi ada bau-bau amis gitu ya? wah lu abis n*****t ya?" Seli makin panik. "Ini bau keringat, Babi betina! Sekolah tuh panas, AC di mana-mana mati! Lu nggak usah sok tahu deh Gua kaga n*****t sama sam paham!" seli gelisah, karena sudah di curigai jesica. "Udah, sudah," Sari menengahi dengan suara lembut yang mematikan. "Tadi emang di belakang panas banget, kita cari buku aku yang hilang. Makanya Sam sama Seli sampai keringatan begitu." "Oooooh, emang Sari ini bener-bener hobi baca ya, sampe buku hilang aja dicariin segitunya," puji Arron sambil mengangguk-angguk percaya. Seli dalam hati menghina Sari habis-habisan: 'Halah, hobi baca pala lu peyang! Kalo lu tau dia tadi sedot Joni gue Sam sampe bunyi sruput-sruput, lu pasti langsung pingsan d***o!' "Udah ah, ayo pulang! Udah mau magrib!" ajak Sam yang sudah mulai merasa Jononya kedutan lagi karena terus-terusan bergesekan dengan celana olahraganya yang kasar tanpa k****t. "Gua laper, mau makan." "Ayo pulang bareng. Sam, motor Astrea lu kan masih rusak di rumah, lu naik angkot Elf kan bareng Seli?" tanya Donald. "Iya, bareng gua dia," jawab Seli cepat sambil menarik lengan Sam. Perasaan Seli sekarang campur aduk; dia merasa bersalah sudah tidak perawan, tapi disisi lain dia terus membayangkan kehangatan batang Sam yang tadi menghujam rahimnya. Seli yang judes sekarang jadi manja tapi tetep tantrum karena doyan rasa k****l Sam. "Jessica, lu dijemput sopir lu ya?" tanya Arron. "Iya dong, masa anak orang kaya naik angkot? Nanti kulit gua iritasi," bual Jessica sambil melirik sinis ke arah Seli. "Eh Sel, hati-hati ya di angkot, jangan sampe 'bobol' gara-gara goyangan mobil." "JAGA MULUT LU YA JES!" Seli hampir saja menampar Jessica kalau tidak ditahan oleh Sam. Mereka akhirnya berjalan bersama keluar gerbang sekolah menuju pangkalan angkot Elf. Donald berjalan sambil terus ngunyah gorengan baru, Arron sibuk menceritakan teori fisika yang nggak ada yang dengerin, Jessica sibuk bergaya, sementara Sam, Seli, dan Sari berjalan dalam rahasia besar mereka sendiri. Sesampainya di pangkalan Elf, Sari pamit duluan. "Aku duluan ya teman-teman. Sam, Seli... makasih ya bantuannya tadi. Sampai ketemu lagi." Ia memberikan lirikan penuh arti ke arah s**********n Sam sebelum menghilang di keramaian. Sam dan Seli naik ke dalam mobil Elf yang sudah mulai penuh. Mereka duduk di pojok paling belakang yang remang-remang. "Sam..." bisik Seli pelan sambil menggandeng tangan Sam kencang. "Apa Sel?" "Lu... lu harus tanggung jawab ya. Inget, lu orang pertama yang masuk ke situ," ucap Seli sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sam. Pipinya memerah, dia merasa tantrum setiap kali kulit mereka bersentuhan. "Iya Sel, gua bakal jagain lu. Enak kan tadi?" tanya Sam d***o sambil nyengir. "Diem lu b*****t! Tapi... iya... enak banget. Joni lu ternyata gede bener," jawab Seli malu-malu sambil diam-diam meraba tonjolan di balik celana olahraga Sam. Sam hanya bisa tertawa kecil. Hari ini mereka resmi lulus sekolah, ijazah sudah di tangan, dan mereka sudah melewati "ujian praktik" paling nikmat seumur hidup. Meskipun celana abu-abu Sam yang penuh noda tai masih tertinggal di toilet multimedia lantai tiga sebagai saksi bisu tragedi d***o di hari kecepirit di aula acara kelulusan sekolah, Sam tidak peduli. Mobil Elf meluncur pergi membelah jalanan Astapura yang mulai gelap, membawa sejuta gairah d***o yang baru saja meledak di hari kelulusan mereka. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD