Penetapan Hati

2420 Words

Saat apartemen kembali sunyi setelah kepergian Gabriel, Anaya tidak langsung bergerak dari kursinya. Ia masih duduk di meja makan, memandangi sisa pencuci mulut, sementara gema langkah kaki Gabriel tadi masih terasa seperti tertinggal di lantai rumah itu. Aneh, padahal baru beberapa menit, tapi kehadiran pria itu selalu meninggalkan ruang yang terasa berbeda saat ia pergi. Anaya menghela napas pelan lalu tangannya meraih ponsel. Satu nama langsung muncul di pikirannya. Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar satu kali. Dua kali. Lalu— “Anaya?” Suara itu hangat. Familiar. Sedikit cepat, seperti seseorang yang selalu hidup dalam ritme yang tidak pernah benar-benar pelan. “Kak Michelle…” “Ya Tuhan, akhirnya kamu telepon juga,” potong Michelle cepat. “Aku sudah dengar.” Anaya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD