Berbeda dengan Sanjaga yang dulu sempat menolak kehadiran adik tambahan, Jendra justru berada di fase sebaliknya, fase di mana dunia menurutnya akan jauh lebih menyenangkan jika ada satu orang lagi yang bisa ia ajak bermain, ia ganggu, atau ia ajak bersekutu melawan abangnya. Siang itu dapur rumah dipenuhi aroma manis dari adonan yang baru matang, oven menyala hangat, dan meja panjang di depan Marsha sudah dipenuhi cookies yang siap dihias. Marsha berdiri dengan santai, rambutnya diikat asal karena panas, tangannya cekatan menggambar icing warna-warni di atas permukaan cookies, sementara di sampingnya Jendra berdiri di atas bangku kecil, memperhatikan dengan mata berbinar sambil sesekali mencolek icing dengan jari kecilnya tanpa izin. “Mamaa…” panggilnya memanjang, suaranya cadel dan penu

