Rapuhnya sang Jendral

2668 Words

Beruntunglah saat itu Marsha membawa ponsel. Tangannya gemetar saat menghubungi Kalandra dari balik pintu kamar mandi, dan di ujung sana Kalandra langsung bergerak tanpa banyak tanya. Sebuah panggilan singkat, nada tegas, instruksi jelas pada salah satu perwira bekas ruangannya tidak boleh dipakai dulu sampai satu minggu ke depan. “Pak Kalandra minta ruangannya jangan digunakan dulu. Mari kita pindah. Haduh, kita sudah salah langkah.” “Semoga Pak Kalandra paham kalau kita hanya mengaguminya, tidak berniat lagi. Mari pergi dari ruangan ini.” Rapat pun berpindah ke ruangan lain. Kursi diseret, map ditutup, langkah kaki menjauh, semuanya berlalu tanpa satu pun dari mereka tahu bahwa Marsha sedang menahan napas di balik pintu kecil itu. Ketika sunyi benar-benar turun, Marsha keluar dengan l

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD