“Mas Satya, ini aku. Aura,” ucap wanita itu lagi, karena Satya tak kunjung memberi respons. “Bagaimana kamu tahu nomor ponsel saya?” ucap Satya, akhirnya. “Ya, kamu tahu nomor saya dari mana?” “Enggak penting aku tahu nomor Mas Satya dari mana karena yang terpenting kita bisa bicara sekarang.” “Ada apa? Kenapa ingin bicara?” “Aku mau jujur tentang sesuatu.” “Jujur tentang?” tanya Satya. “Jujur dan mengakui kesalahanku yang cukup fatal,” jawab Aura. “Setelah kita bertemu di rumah orangtua Mas Satya dan untuk pertama kalinya aku tahu Mas Satya akan menikah dengan Hanna ... di sana aku bersikap seolah-olah menerima kenyataan. Padahal diam-diam aku menyelipkan surat kecil untuk Hanna. Ya, aku mengajaknya bertemu lalu berbicara empat mata.” Tentu saja Satya tahu soal ini. Namun, ia tidak

