Nama yang Tak Lagi Sakti.

1085 Words

Gina duduk di depan cermin usang di kamar sempit rusun temannya. Wajahnya kusam, matanya sembab, dan bibirnya pecah-pecah karena terlalu sering menggigitnya sendiri setiap kali panik. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi dengan hair dryer dan catokan kini mengembang tak karuan, hanya dicepol asal dengan jepit plastik murah. Kemeja sutra dan blazer mahal yang dulu selalu menempel rapi di tubuhnya digantikan kaos lusuh dan celana jins yang memprihatinkan. Ia menatap bayangan dirinya sendiri, melihat seorang wanita yang berbeda dari sosok sekretaris cantik nan elegan yang dulu dikenal dunia profesional. “Gue nggak bisa terus begini …,” gumamnya lirih, suaranya hampir tenggelam di antara deru AC yang bocor dan dengungan lampu neon rusak di kamar. Dengan tangan gemetar, ia membuka laptop p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD