Pertemuan Saudara Dalam Damai.

1188 Words

Wajah anak-anaknya satu per satu melintas di kepalanya. Mereka tumbuh, mereka belajar, mereka tertawa, dan sering kali ia tidak ada di sana. Ia selalu sibuk, selalu berada di balik meja rapat atau perjalanan bisnis. Ia tahu anak-anaknya menghormati dirinya, tapi entah apakah mereka benar-benar mengenalnya. Ada sesak di dadanya ketika memikirkan itu. Aksa menatap tangannya sendiri. Jari-jarinya yang dulu lincah kini mulai kaku. Ia mengepalkan tangan, lalu melepasnya lagi. Di sela-sela keheningan, ia merasa seakan sedang berdiri di persimpangan yang besar. Ia sudah terlalu jauh berjalan, terlalu banyak keputusan yang diambil, terlalu banyak jalan yang ditempuh. Tidak mungkin ia kembali ke masa lalu. Tapi apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki apa yang tersisa? Ia tahu, beberapa luk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD