Surat dari Masa Lalu.

1004 Words

Dengan tangan berlumur cat dan keringat, dengan jiwa yang penuh tekad, Ferdy melangkah ke dalam rumahnya sendiri—rumah yang dibangun bukan hanya dari bata dan kayu, tapi dari keberanian, kejujuran, dan cinta yang nyata. Di sinilah cerita baru dimulai. Rumah yang dibangun sendiri, untuk dirinya sendiri, dan untuk semua yang ingin belajar bahwa hidup tidak harus diwariskan, tapi bisa dibangun, satu langkah, satu hari, dan satu hati pada satu waktu. *** Malam turun perlahan, menyelimuti kota kecil itu dengan selimut keheningan. Lampu jalan menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang di aspal yang mulai lembap oleh embun. Dari kejauhan, suara motor sesekali memecah kesunyian, tapi di Rumah Kedua hanya ada bunyi jangkrik dan desir angin yang mengelus dedaunan di halaman. Ferdy duduk

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD