Hari lamaran tiba lebih cepat daripada yang dirasakan Nadira. Waktu berjalan seperti tergelincir di sela-sela jarinya, setiap hari ia sibuk, setiap malam ia menunggu, dan kini… tinggal beberapa jam sebelum ia duduk bersanding secara resmi sebagai calon istri Bian. Di ruang makan keluarga rumah Papa Ary, pagi itu terasa lebih hangat daripada biasanya. Meja makan dipenuhi aroma Nasi goreng, roti bakar, telor dadar, dan teh hangat. Nadira duduk di ujung meja, rambutnya masih kusut baru bangun, tapi wajahnya berbinar seperti orang yang baru menemukan tiket ke kebahagiaan. Amira, yang sudah datang dari Bandung bersama suami dan anak-anaknya sejak kemarin, duduk di sampingnya sambil mengaduk teh. Suami dan anak-anaknya sedang ingin cari sarapan diluar. Papa Ary sudah duduk dikursinya, mama Ne

