Nadira awalnya mengira itu hanya flek. Ia baru selesai dari kamar mandi siang itu, berniat ganti baju lalu rebahan sebentar. Tapi begitu ia menunduk, melihat merah yang tidak seharusnya ada, lututnya langsung terasa lemas. Darah itu bukan titik kecil. Mengalir. Nadira memanggil pelan, lalu lebih keras, "Mbak… Mbak!" Atin, salah satu asisten rumah tangga berlari dari arah dapur. Wajahnya berubah begitu melihat keadaan Nadira. "Bu … ini banyak banget, Bu." Nadira mencoba menenangkan diri, tapi suaranya pecah. "Aku harus telpon mama sekarang." Tangannya gemetar saat ia meraih ponsel di atas nakas. Sebelum menelpon mama Jani seperti yang ia rencanakan, ia menekan nomor Bian, berkali-kali. Tidak tersambung. Ia sampai lupa kalau Bian sedang terbang, tentu saja tidak bisa dihubungi. Nadir

